Politik Lokal

Demokrasi Lokal

Sebuah buku yang bicara tentang proses penyelenggaraan pilkada secara live dan on the road. Tentang bagaimana proses tahapan pilkada digelar oleh KPU,  bagaimana para kandidat memenangkan pertarungan  beserta trik pemenangannya (strategi & gaya kampanye) dan dinamika sosial dan politik yang membalut pilkada hingga pertarungan usai… ada yang menang ada yang kalah… Buku ini baik untuk belajar menyelenggarakan pemilihan dan mengikuti pemilihan…. Amat baik jika belajar dari pengalaman…

Judul Buku: DEMOKRASI LOKAL: Belajar Dari 72,6% Suara Kemenangan Dalam Pilwali Kota Probolinggo 2008

Tebal: xxi + 222 halaman

Penulis: Wawan E. Kuswandoro

Penerbit: InSECS Publishing Surabaya

Cet. I: Mei 2009

ISBN: 978 – 979 – 18994 – 0 – 6

RINGKASAN:

Jika Aristoteles menyebut manusia (“man”) sebagai makhluk institusional [an institutional animal] (Ferejohn, 2003), maka institusi-lah yang menentukan tingkat peradaban manusia. Ia meliputi aturan dan makna yang dipahami bersama (rules and shared meanings) yang mendefinisikan hubungan sosial dan membantu menentukan siapa menduduki posisi apa dalam hubungan itu. Institusi politik dalam demokrasi menurut Robert Dahl (2005), yaitu pejabat yang dipilih, pemilu yang bebas (free), adil (fair) dan sering dilakukan, kebebasan berekspresi, sumber informasi alternatif, otonomi asosiasional, dan kewarganegaraan yang inklusif, menunjukkan betapa proses politik lokal membutuhkan keseimbangan institusional dalam demokrasi lokal yang diperankan oleh para penjaga demokrasi: KPU, kepengurusan partai politik, para kandidat dan tokoh masyarakat.

Pilwali Kota Probolinggo (Jawa Timur) 30 Oktober 2008, yang melibatkan 81% partisipasi politik warga atau 19% golput, berakhir damai dan berperannya para stakeholders pilwali membuktikan bekerjanya institusi demokrasi di aras lokal. Tidak hanya tingginya legitimasi politik dari fakta bahwa kandidat pemenang memperoleh suara kemenangan 72,6%, buku ini menyajikan ragam peristiwa yang dapat dijadikan pelajaran. Tentang mengelola dan memelihara preferensi pemilih, yang mungkin saja berubah pada pilkada 2015 nanti seiring dengan perubahan peta politik, paradigma, kultur, struktur sosial, dsb, yang juga akan mempengaruhi strategi komunikasi politik. Resultan demokrasi lokal dengan besaran vektor institusionalisasi pemilih dan proses politik lokal yang dinamis, unlinear dan unpredictable. Amat baik jika belajar dari pengalaman.

Kata Akademisi…

Buku ini mengindikasikan betapa incumbent yang memiliki prestasi kinerja memimpin pemerintahan dengan baik dan kerap menyapa masyarakatnya, cenderung terpilih kembali dengan suara dominan. Best practices ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun yang ingin maju kembali berkompetisi dalam pilkada langsung.

Haryadi, MA, Dosen Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga Surabaya, Analis Pilkada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: