Pemerintahan dan Kebijakan Publik

Modal Sosial dan Urban Policy

Judul Buku: MODAL SOSIAL dan URBAN POLICY: Kajian Best Practices Inovasi Pemerintah Daerah, Studi Kasus Pemerintah Kota Probolinggo 2004 – 2009
Tebal: xiv + 227 hlm
Penulis: Wawan E. Kuswandoro
Penerbit/ Cet. ke: InSECS Publishing, Surabaya/ I, Mei 2010
ISBN: 978 – 979 – 18994 – 1 – 3

RINGKASAN

Modal sosial menjadi perekat dalam hubungan sosial bagi setiap individu, dalam bentuk norma, kepercayaan dan jaringan kerja, sehingga terjadi kerjasama yang saling menguntungkan, untuk mencapai tujuan bersama. Modal sosial juga dipahami sebagai pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki bersama oleh komunitas, serta pola hubungan yang memungkinkan sekelompok individu melakukan satu kegiatan yang produktif.

Dalam konteks kepemerintahan daerah di era otonomi daerah, hubungan sosial melibatkan institusi pemerintah beserta komponen internalnya yakni para satuan kerja, dan institusi pemerintah dengan sektor swasta dan warga masyarakat, yang dalam bahasan buku ini disebut ”aktor lokal”, dalam entitas lokal Kota Probolinggo, mengandung unsur kekuatan yang dimiliki oleh suatu daerah dalam mempersepsi dirinya untuk keperluan pembangunan berkelanjutan berorientasi ke depan, yang lazim disebut ”modal sosial” (social capital). Dalam pengertian ini, modal sosial pada intinya menunjuk pada political will dan penciptaan jaringan-jaringan, kepercayaan, nilai-nilai bersama, norma-norma dan kebersamaan yang timbul dari adanya interaksi manusia di dalam sebuah masyarakat. Pemerintah dapat mempengaruhi secara positif kepercayaan, kohesifitas, altruisme, gotong royong, partisipasi, jaringan, kolaborasi sosial dalam sebuah komunitas. Modal sosial pada umumnya akan tumbuh dan berkembang bukan saja karena adanya kesamaan tujuan dan kepentingan, melainkan juga karena adanya kebebasan menyatakan pendapat dan berorganisasi, terjadinya relasi yang berkelanjutan serta terpeliharanya komunikasi dan dialog yang efektif. Sebagian upaya ini dapat dikembangkan dari adanya komunikasi yang terbuka antar aktor lokal termasuk pemerintah dan dapat pula dikembangkan oleh pemerintah melalui kebijakan publiknya.

Konsepsi yang berupaya dibangun ini, memang tidak menafikan kecenderungan arus besar desentralisasi Indonesia yang lebih menonjolkan sisi pengembangan institusi, baik institusi pemerintah maupun kemasyarakatan dengan ciri pengembangan NGO dan aktor lokal lainnya (civil society) yang mempengaruhi pengembangan konsepsi modal sosial dan urban policy. Namun, “keterlanjuran formula neo-institusionalis yang telah menasional” ini sedikit banyak terkikis oleh suatu “side effect” yang positif dalam pandangan developmentalis, yakni munculnya inovasi-inovasi yang terukur.

Kebijakan publik Kota Probolinggo terutama dalam praktik pengalaman terbaik (best practices) Kota Probolinggo selama kurun waktu 2004 – 2009 yang termanifestasi dalam program-program inovatifnya, dapat dianalisis bahwa strategi kebijakan publik dapat dirancang untuk menumbuhkembangkan modal sosial, dan lebih lanjut, modal sosial yang secara laten embedded dengan proses sosial suatu kebijakan publik dapat diinventarisasi untuk kepentingan lanjutan. Modal sosial dan pertukaran sosial akan memberikan jawaban pada lokalitas sosial, sekaligus mengklarifikasi apakah “best practices” dalam program inovasi pada kurun waktu tersebut telah benar-benar merupakan best practices, dengan indikator tertentu. Kajian modal sosial (social capital) dalam studi-studi kepemerintahan sangat diperlukan untuk merangkai dan mengaktifkan anasir laten yang mendasari hubungan antar aktor dalam ruang dan hubungan sosial kepemerintahan dalam lokalitas daerah sebagai alat analisis, dan penggunaan pendekatan urban policy untuk menjelaskan secara live interkoneksitas elemen-elemen lokal berikut otoritas lokal (local authority) yang beroperasi di wilayah kebijakan publik suatu daerah.

Dari seluruh program inovasi yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Probolinggo dari tahun 2004 hingga 2009, yang menjadi objek kajian buku ini, memunculkan beberapa pertanyaan mendasar tentang detil informasi yang berkaitan dengan proses dan implementasi kebijakan publik Pemerintah Kota Probolinggo pada program inovasinya selama kurun waktu 2004 – 2009. Yakni sejauh mana inovasi tersebut benar-benar dapat dikatakan sebuah inovasi yang telah memenuhi standard dan kriteria (indikator) tertentu dan menjadi best practices yang dapat dijadikan pelajaran (lesson-learned) bagi diri sendiri sebagai referensi pengembangan ke depan (self evaluation) bahkan mungkin bagi daerah lain serta interlink antar aktor dan hubungan sosial yang terjadi pada proses dan implementasi program inovasi tersebut.

Buku ini, disusun dalam kerangka konseptual untuk menjawab pertanyaan di atas, dengan mendeskripsikan modal sosial dalam kebijakan publik Kota Probolinggo pada program inovasi selama 2004 – 2009, yang lebih lanjut untuk menjelaskan urban policy. Modal sosial merupakan sesuatu yang embedded dengan proses praktik penyelenggaraan pemerintahan dan pengelolaan kota. Ia dapat ditumbuhkembangkan dan diperkuat melalui kebijakan publik yang telah dilakukan dalam apa yang disebut best practices itu maupun melalui rancangan strategi kebijakan publik lanjutan dalam rangka menuju best practices program inovasi jika program inovasi pemerintah kota selama 2004 – 2009 yang dikaji ternyata masih belum dapat dikategorikan sebagai best practices secara keseluruhan ataupun sebagian. Setidaknya, buku ini mengisyaratkan tentang perlunya studi dan dokumentasi untuk menganalisis modal sosial dan urban policy dalam implementasi kebijakan publik pada suatu pemerintahan daerah sebagai pengalaman terbaik (best practices) dan bahan evaluasi diri (self evaluation) bagi kebijakan lanjutan yang lebih baik. Isu sentral buku ini yakni modal sosial dan urban policy pada program inovasi 2004 – 2009, dengan membatasi diri untuk tidak membahas tentang baik buruknya suatu program kebijakan atau pelayanan publik, tetapi lebih kepada proses sosial yang melingkupi suatu kebijakan atau program. Karenanya, beberapa konsepsi yang ingin direkonstruksi oleh buku ini adalah, pertama, upaya identifikasi dan inventarisasi terhadap berbagai program inovasi yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Probolinggo pada kurun waktu 2004 – 2009, yang kemudian dapat dianggap sebagai suatu bentuk pengalaman terbaik (best practices) Kota Probolinggo, ketika telah dapat membawa perubahan dan dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Kedua, upaya eksplorasi dan analisis modal sosial dalam praktik dan kebijakan pengelolaan pembangunan perkotaan (urban policy) dalam konteks inovasi pemerintah Kota Probolinggo dalam kurun waktu 2004 – 2009, serta untuk merancang strategi kebijakan publik untuk menumbuhkembangkan modal sosial dalam konteks urban policy, memperkuat program-program inovasi yang telah ada maupun yang baru serta sebagai referensi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dalam implementasi kebijakan publik pemerintah Kota Probolinggo ke depan. Khususnya pada konsepsi kedua, modal sosial dan urban policy, akan berperan baik pada keberadaan best practices maupun tidak adanya best practices pada beberapa program inovasi yang telah dijalankan. Dan secara umum kedua capaian tersebut diharapkan akan dapat memperkuat referensi bagi implementasi kebijakan publik oleh penyelenggara dan pengelola pemerintahan Kota Probolinggo berdasarkan pengalaman sendiri, mempermudah perencanaan dan penguatan kebijakan lanjutan pada masa yang akan datang berdasarkan hasil kajian modal sosial dan urban policy terhadap praktik pengalaman terbaik inovasi yang telah dilakukan. Dalam hal lesson learned (pelajaran yang dapat diambil), sebagai bahan saling tukar informasi, pengalaman dan referensi antar pengelola pemerintahan kota di lingkup regional dan nasional dalam rangka menguatkan kembali implementasi kebijakan program inovatif pemerintahan Kota Probolinggo.

Kiranya, inovasi-inovasi yang menyertai upaya lokal dalam bangunan besar pengembangan institusi kepemerintahan dalam arti luas, akan membawa ciri tersendiri dengan menampilkan wajah welfare state pada aras lokal sesuai dengan proses sosial dan transmisi kultural yang dinamis. Dan dinamisasi ini bergerak secara menyebar dalam penguatan urban policy bersama kekuatan civil society.

Menarik, penulis membawa pada pembukaan wawasan inovatif ketika gagasan dan karya inovatif pemerintah daerah di-capture dan disajikan dengan mengetengahkan konsep modal sosial sebagai bingkai proses sosial di ranah lokal pada area yang diteliti. Menariknya lagi, buku ini ditulis oleh peneliti dan aktivis lokal, yang setiap harinya hidup di locus kajian, sehingga mengetahui dan mengalami secara alamiah, sekaligus dapat mengisi kekosongan akan sedikitnya tulisan dan analisis tentang pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia, khususnya yang dapat menunjukkan dinamika lokal dalam perspektif ‘peneliti lokal’. Karena yang kerap terjadi adalah “orang pusat berbicara tentang daerah”, bukan orang daerah bicara tentang daerahnya sendiri.

Buku ini telah menjawab persoalan kelangkaan tersebut. Karya ini disamping dapat memperkaya perbendaharaan bagi masyarakat daerah terhadap daerahnya sendiri, juga dapat menjadi inspirasi baru dan menggugah kesadaran baru bagi warga daerah yang ingin ‘berbicara’ tentang daerahnya.

Apa Kata Akademisi….

“Mendinamisasikan dokumen negara demi kepentingan publik seperti yang ditunjukkan oleh buku ini, selaras dengan semangat transparansi dan kemudahan memperoleh informasi bagi masyarakat luas. Ia telah menghidupkan arsip-arsip pasif yang pada umumnya tersimpan rapi di rak-rak birokrasi dan masyarakat umum pun enggan menjangkaunya, kini bisa dinikmati oleh siapa saja. Peluang bagi masyarakat luas untuk mempelajari institusi internal pemerintah berikut hubungannya dengan masyarakat”

(Nanang Haryono, S.IP., M.Si, Dosen FISIP Universitas Airlangga Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: