Nihongo No Konyol


Cara Konyol Belajar Bahasa Jepang

Bahasa adalah unsur budaya. Agar tak lepas konteks, kita tengok dulu budaya asal bahasa tersebut. Mempelajari kehidupan manusia memang mengasyikkan. Perilaku, hubungan social, budaya dan karakter masyarakat termasuk  masyarakat bangsa-bangsa, disamping menambah wawasan kemanusiaan, juga semakin menyadari bahwa dibalik keunikan budaya suatu bangsa tersimpan “kekuatan”. Menarik untuk dipelajari (learning about the people). Kita bisa belajar daripadanya (learning from the people). Salah satu unsur budaya yang kita kenal adalah bahasa. Bahasa yang digunakan suatu bangsa menunjukkan cara dan struktur berpikir, pandangan, ekspresi, bahkan identitas. Misalnya, bangsa pengguna bahasa yang disimbolkan dalam bentuk deretan huruf latin dan gambar (piktograf). Secara awam, kita akan menilai bahwa bahasa yang disimbolkan dalam deretan gambar piktograf menunjukkan kesederhanaan berpikir juga ketajaman ingatan, karena satu gambar mewakili satu ide atau bahkan satu peristiwa. Mungkin belum banyak ide yang diwakili oleh penggalan gambar tersebut karena sebagian masih mengandalkan memori manusianya untuk menyimpan peristiwa yang dilukiskan. Ini menandakan betapa kuat ingatan manusianya.

Diantara symbol-simbol bahasa yang mewakili peristiwa yang dilukiskan, adalah hieroglyph (tulisan Mesir kuno) dengan satu gambar mewakili satu penggalan peristiwa, kemudian berkembang menjadi lebih sederhana yaitu piktograf (huruf kanji Cina, yang kemudian banyak diadopsi dalam huruf kanji Jepang), dengan satu gambar (symbol) mewakili satu kata, kemudian kita mengenal bentuk yang lebih sederhana, satu symbol mewakili satu suku kata seperti yang tanpak dalam huruf hiragana (Jepang) dan katakana (Jepang). Kemudian kita mengenal satu symbol mewakili satu huruf, yang nantinya harus dirangkai dengan huruf lain untuk membentuk satu bunyi atau makna. Bentuk yang ini lazim tampak dalam bahasa-bahasa yang menggunakan huruf-huruf latin (alfabetikal a – z termasuk dengan aneka “variasi”-nya), huruf-huruf simbolik berbasis huruf (non alfabetikal latin) termasuk huruf-huruf Arab dan Rusia.

Salah satu huruf dan bahasa yang menarik perhatian saya adalah huruf dan bahasa Jepang. Saya bukan ahli bahasa atau sastra Jepang atau budaya Jepang, namun hanya tertarik ketika orang Jepang memiliki huruf silabus (berbasis suku kata) yakni hiragana (untuk menuliskan kata-kata dari unsur Jepang) dan katakana (untuk menuliskan kata-kata yang berasal dari unsur asing) kemudian “mengimpor” huruf kanji China yang berbasis kata dengan beberapa modifikasi bentuk dan bunyi sehingga kanji Jepang walaupun tampak sama, namun memiliki arti (bahkan bunyi) yang berbeda dari kanji China. Bagi saya ini cukup untuk memahami bahwa bangsa Jepang adalah bangsa yang belajar (learning nation), selalu melihat kekurangan diri dan menambah kekurangan dirinya dengan belajar dari bangsa lain yang kemudian menjadi milik sendiri.

Pola komunikasi orang Jepang juga unik. Dalam berkomunikasi personal antar sesamanya, orang Jepang menganggap bahwa lawan bicara yang diam (walaupun memperhatikan ucapan lawan bicaranya) adalah sebagai lawan bicara yang tidak sopan. Mereka lebih suka menimpali pembicaraan ;awan bicara dengan beberapa ungkapan sederhana atau ucapan kecil semacam “oh ya”, “betul tu”, “ah”, “hm”, “ya”, “lantas”, dsb. Ungkapan-ungkapan kecil ini muncul di sela-sela ucapan yang dilakukan oleh lawan bicara (yang sedang berbicara), namun dilakukan dengan tidak membuat lawan bicara terganggu ucapannya. Jadi harus pandai-pandai melihat celah. Orang pertama (pembicara) akan berbicara, kemudian orang kedua (yang menjadi lawan bicara) menimpali dengan ucapan-ucapan pendek seperti tadi di sela-sela ucapan orang pertama. Terdengar bergantian dan saling mengisi, yang menurut orang Jepang tampak seperti pandai besi yang sedang bekerja. Pandai besi bekerja dalam tim kecil (biasanya berisi 2 orang) yang menempa besi/ baja secara bergantian sehingga terdengar irama yang indah walaupun bekerja berat. Pola bicara “bergantian seperti pandai besi yang sedang bekerja” inilah yang lazim disebut “aizuchi”. Cara berbicara seperti ini akan terlihat dan terdengar indah, hidup dan terkesan saling memperhatikan. Saya melihat ada semangat saling memperhatikan, saling menghargai dan kerjasama “hanya” dalam cara berbicara ! Jika “hanya” urusan ngomong aja orang Jepang ini sudah menampakkan “etos kerja” produktif, apalagi ketika mereka bekerja !

Sedikit menambahi tentang penghargaan kepada lawan bicara ketika orang Jepang (modern) berbicara, adalah tampak ketika 2 orang yang saling bertemu, berkenalan dan berbicara. Orang Jepang memiliki kebiasaan bertukar kartu nama (ketika pertama kali bertemu atau kenal) sambil berkenalan nama. Ketika menerima kartu nama orang lain, kita pasti akan segera menyimpan dalam saku atau dompet kalau kita menganggapnya cukup berharga, kemudian melanjutkan bercakap-cakap. Orang Jepang tidak demikian. Mereka akan menerima kartu nama pemberian lawan bicara dengan dua tangan (tentunya dengan sedikit membungkuk, gaya Jepang), memandangnya dengan pandangan takjub seolah menerima benda keramat, tetap memegangnya selama bercakap-cakap dengan sesekali melirik ke arah kartu nama tersebut ! Jika kartu nama tersebut adalah kartu nama anda, bagaimana perasaan anda? Antar sikap model pertama (diterima, langsung disimpan) atau model kedua (model Jepang)? Perlakuan terhadap kartu nama  anda yang model mana yang mambuat anda lebih merasa terhormat dan dihargai? Itulah orang Jepang !

Nah, kembali pada urusan bicara tadi ya…. Lawan bicara yang diam akan dianggap sebagai lawan bicara yang tidak mengerti isi pembicaraan, tidak mengikuti pembicaraan dan tidak peduli pada isi pembicaraan. Dengan demikian, ia akan dianggap sebagai teman bicara yang tidak sopan dan tidak menghargai orang… atau… sebagai orang dungu karena tidak mengerti apa-apa.. seperti kerbau. Nah.. kerbau lagi…🙂 Jadi ingat… hehe…🙂 Saya menduga, mungkin orang Jepang (bahkan mungkin juga kita ya..) akan menganggap, jika lawan bicara diam aja, apa bedanya dengan berbicara dengan orang tuli, orang gagu atau berbicara dengan kerbau atau berbicara dengan patung!

Jika kita melihat ada kebaikan tersirat dalam pola komunikasi orang Jepang, gak papa kok jika kita mencontohnya… hehe…🙂

Ya memang sih, Negara Jepang termasuk negara industri, dengan teknologi maju, dengan banyak sekali inovasi tiada henti sehingga membuat Jepang senantiasa lebih unggul dan semakin berada di depan… lha kok kayak iklan sepeda motor yak.. haha…. Motor Jepang.. nah.. iya akan…. Bikinan Jepang… kalu gini ni saya ingat sekelimunit sejarah kebangkitan Jepang pasca bom bunuh diri eh… bom atom yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki (Perang Dunia II, lihat gambar di bawah: Hiroshima pasca bom atom). Tahun 1945 Jepang luluh lantak… eh… pada tahun 1980 Amerika Serikat telah kebanjiran produk Jepang! Sehingga ada karikatur yang menggambarkan Presiden Ronald Reagan berpidato, di sekeliling podiumnya terdapat benda-beda bermerk Sony, Nikkon bertebaran. Buru-buru Amerika kelabakan !

Jepang hebat? Saya masih belum bercerita tentang kehebatan seorang geisha bernama Naoko Nemoto yang sangat berposisi penting dan berjasa bagi diplomasi Indonesia di era Soekarno. Yang kemudian dinikah oleh sang Presiden. Anda kenal? Kenal di mana hayo…. Haha…. Okelah… jika anda pernah mengenal nama Dewi Soekarno, dialah orangnya! Yang kemudian dunia internasional terutama kalangan jet set mengenalnya sebagai Madamme Soekarno.. dan sekitar 1990-an Indonesia heboh dengan kemunculan sebutan Madamme de Syuga !

OK.. lain kali aja ya ceritanya… kita lanjutin cerita bahasa Jepang aja lah… Supaya kita “ketularan” semangat bushido orang Jepang yang kuat dan ulet. Walaupun digambarkan oleh Koentjaraningrat (Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan) sebagai bangsa yang bermental membangun yang sangat kuat sehingga Indonesia tidak mungkin bisa menirunya jika diadopsi untuk urusan pembangunan, namun boleh donk terinspirasi darinya… dikit aja…

Nah, tentang bahasa tadi ya…. Saya memilih untuk tertarik dengan bahasa Jepang antara lain karena ilustrasi di atas.. hehe…🙂

Saya pun menggunakan cara-cara “nakal” untuk membuat bahasa Jepang terasa mudah dipelajari, termasuk ketika saya mengajari anak saya yang berminat (cuma ada 1 anak saya yang berminat mempelajari bahasa-bahasa dunia termasuk bahasa Jepang, disamping bahasa Rusia dan Spanyol. Inggris tentu saja, selain bahasa Indonesia. Anak saya satunya, terpaksa belajar bahasa Arab karena tuntutan kurikulum sekolahnya.. haha..).

Tentu saja, ini bukan sebangsa takashimura (jual obral),  naiko kuda (gerak cepat), naiko yamaha (gerak lebih cepat), takashitai (tidak sopan), raimu takashitai (sangat tidak sopan), dsb.. hehe…. Awas.. orang Jepang bisa marah kalau bahasanya –yang ia junjung tinggi sehingga ia enggan belajar bahasa Inggris itu— dipleset-plesetin gitu… Yak, orang Jepang terpaksa berbahasa Inggris itupun bahasa Inggris logat Jepang yang menurut mereka sangat dapat dibanggakan! Saya pun sempat bingung ketika menyimak omongan orang Jepang yang ngomong ‘preng’ yang maksudnya ‘plan’…. Yak.. orang Jepang susah ngomong “l” (dilafaz “r”) dan huruf “n” di akhir kata dibaca “ng”. Alhasil, “plan” pun diucap “preng”… Cukup kacau kan… hehe… Tapi si Jepang yang ngomong gitu tetep PD aja, tetep ngomong dengan mimik serius  dan “gak ngerasa berdosa”…. Haha….🙂

Lebih kacau lagi jika orang Jepang ngomongin pemilu di negaranya. “In my country when generar erection herd, people tark about poritic everywhere…” Maksudnya, in my country when general election held, people talk about politic everywhere…”

Sepintas, kita akan mendengarnya sebagai “when general erection heard….”… Mantap… haha…🙂

Waduh… ngelantur ke mana-mana… haha…. Cuma foot note kan….

Kadang saya ngajari anak-anak untuk membuat asosiasi ke memori objek lain yang lebih familiar ketika belajar bahasa Jepang. Misalnya, kata hajimaru (dengan berbagai variannya: hajimete, hajimemashite, hajimemasho) yang berarti “permulaan”. Ya… haji (makna budaya kita: wak haji) dikaitkan dengan makna permulaan (pergi haji wajibnya cuma sekali, jadi “permulaan”). Tentu saja gak perlu  diplesetin “hajimoto” (wak haji lagi piknik, sambil memotret).. hehe…🙂

Anata” (kamu, anda), mirip “anda”. Namae (beneran ni, artinya emang “nama”).

Beberapa kalimat yang kita perlu berhati-hati jika gak pengen celaka gara-gara salah ucap, abis, mirip sih.. mungkin kayak orang asing yang masih sulit membedakan “kelapa” dan “kepala”. Kalau penggunaannya terbalik, bisa kacau ni… Misalnya, “saya ingin anda memecahkan kepala saya” yang maksudnya orang tersebut minta tolong untuk membelah buah kelapa.

Di restoran, jika anda suka fast food pakai udang, anda bisa memesan dengan mengatakan “ebiten udon kudasai”. Udon, adalah sebuah fast food ala Jepang, biasanya disajikan dengan tempura, ikan dan sayuran. Meleset dikit anda akan membuat bingung pelayan atau diketawain orang, jika saja anda kurang teliti dengan kata “ebi”, misalnya meleset jadi “hebiten udon kudasai” (tolong sediakan udon dengan daging ular. Ebi = udang; hebi = ular. Beda dikit ya….🙂 ). Jika mereka tahu anda dari Indonesia, wah.. bisa malu-maluin bangsa kita donk.. dikiranya orang Indonesia pemakan ular… hii….

Tapi itu masih bisa dimaklumi, ketimbang harus pesen makanan dengan ngomong “koyubi-no-karaage kudasai”. Maksudnya mau pesen french fries, tapi si pelayan akan takut setengah mati karena ia mengira anda pemakan jari tangan karena “koyubi-no-karaage” artinya (“French-fried finger”). Harusnya dikatakan, “koebi-no-karaage kudasai” (small French-fried shrimps, please; ko-ebi= udang kecil goreng). Ebi =udang. Ko (kecil), ko-ebi artinya ‘udang kecil”. Ingat ebi yang ketuker ama hebi (ular) tadi.. haha… awas… Buas sekali yak… habis makan ular, makan jari orang! Yakuza ama Ninja aja bisa takut tu…. Haha…🙂

Itu belum bahaya ketimbang jika keliru ucap yang berakibat bisa tewas.. lho…. (bercanda, gak mungkin lah… hehe. Tapi sapa tahu lawan bicara menganggap anda serius: anda dikira pengen mati tapi ogah bunuh diri. Kan di Jepang biasa tu bunuh diri.. hehe…🙂 ). Jika anda naik taksi dan minta diturunkan di sebuah jalan (di Jepang lebih familiar dengan blok, bukan jalan), anda bisa mengatakan “kokode oroshite kudasai” (tolong turunkan saya di sini). Beda dikit, anda bisa mati… hehe… jika saja anda keliru ucap “kokode koroshite kudasai” (tolong bunuh saya di sini)… haha…🙂.

Nah…. daripada mati konyol gara-gara salah omong, mending “mati belajar ala Jepang” bareng saya.. haha…🙂

Tunggu lagi Nihongo No Konyol dari saya pada edisi mendatang ya….🙂

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: