Pendidikan Seni Menuju Seni Pendidikan


Wawan E. Kuswandoro

Seni berkaitan dengan keindahan, nilai rasa, emosi, insting dan imajinasi. Dan seni pun muncul ke ruang public dalam bentuk seni musik, seni rupa, seni lukis, seni vocal, dan sejenisnya yang bernuansa emosif imajinatif dan lebih mengeksplorasi kecerdasan non-rasio. Dan orang pun akhirnya memisahkan dunia seni yang penuh emosi, dengan dunia ilmiah yang serba rasional. Pendidikan seni di sekolah pun ramai dengan pengajaran apa yang kita kenal dengan kesenian. Seni dipandang sebagai objek materi. Hal yang sebenarnya tidak menyalahi kehadiran seni sebagai salah satu unsur kebudayaan manusia (objek). Namun persoalannya adalah tatkala seni tiba-tiba menjelma sebagai objek pelajaran yang terpilah dan terpisah dengan objek pelajaran ilmiah (non-seni) dengan peminatan masing-masing, akan mengurangi makna seni dalam pendidikan. Anak-anak sekolah dianjurkan memilih peminatan di bidang seni untuk mengimbangi kekurangan pada bidang sains. Fenomena yang sama persis dengan dikotomi IPA-IPS pada dasawarsa 80-an yang menganggap inferior jurusan IPS terhadap IPA –yang sebenarnya hanyalah akal-akalan pemerintah (warisan kolonial), yang takut pada pengembangan ilmu sosial, yang identik dengan perlawanan–, jadilah seni sebagai pelajaran “kelas dua” dan lahan “pelarian” dari anak-anak yang merasa dirinya kurang sukses pada bidang sains. Seni dipandang sebelah mata dan masyarakat menganggap mahir di bidang seni tidak sehebat mahir di bidang sains. Inilah etape pertama dari keterpurukan apresiasi terhadap seni. Namun ada usaha untuk mengangkat “maqam” seni dari sekedar “pelarian” mereka yang kurang sukses di bidang keilmiahan, kepada apresiasi seni yang lebih bermartabat. Yakni memandang seni sebagai bidang yang sejajar dengan bidang keilmiahan. Golongan ini berpendapat bahwa pembelajaran seni seperti seni musik, diyakini dapat memacu kecerdasan berpikir melalui penyeimbangan kinerja otak kiri dan kanan. Seni diangkat derajatnya dari sekedar tempat “pelarian” menjadi objek pembelajaran yang mencerdaskan. Jadilah seni sebagai kecerdasan tersendiri seperti kecerdasan musical dan kecerdasan spasial. Pendapat ini seolah mendapat dukungan dari konsep kecerdasan ganda (multiple intelligences) yang diperkenalkan Howard Gardner. Inilah etape kedua dari perjalanan apresiasi seni dan sekaligus menempatkan seni sejajar dengan bidang lain seperti sains. Belajar seni (art) diyakini dapat memacu kinerja otak dan dapat disandingkan sebagai suplemen belajar ilmu-ilmu lain semisal sains. Kemunculan Emotional Quotient (EQ) yang mengimbangi Intelligent Quotient (IQ), Spiritual Quotient, dan berkembang menjadi Emotional Spiritual Quotient (ESQ) yang sekarang menjadi marak adalah cerminan apresiasi seni (“soft science”) yang disandingkan dengan keilmiahan (“hard science”). Seni telah bangkit dan lebih bermartabat.

Seni Meretas Kebekuan Dalam Proses Belajar

Perkembangan di atas tentunya menggembirakan. Pendidikan seni di sekolah-sekolah tentunya harus melihat perkembangan ini, sehingga pendidikan seni memiliki target yang jelas. Mungkin target pragmatis, misalnya ingin mengkader bibit-bibit muda yang berbakat dan berminat pada seni agar mampu muncul sebagai seniman beken, tampil pada event-event budaya, pariwisata, duta seni, dan sebagainya. Atau, target “ideologis”, untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan sendiri. Ide bagus dan patriotik. Mungkin pada saat ini seni telah sampai pada etape ini. Penulis berpendapat bahwa pendidikan seni kita seperti ilustrasi di atas, haruslah mampu untuk melahirkan seni pendidikan. Inilah target pendidikan seni kita yang sepatutnya diraih. Pendidikan memerlukan seni dalam penyelenggaraannya. Sampai etape kedua pada paparan di atas, walaupun seni telah mencapai “maqam terhormat”, namun masih menempatkan seni sebagai objek materi (mata ajar). Menurut penulis, seni merupakan metode atau sarana untuk menyelenggarakan pendidikan. Praktik penyelenggaraan pendidikan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan pendekatan seni (art) agar tidak kaku, monoton dan membosankan. Konsep joyful learning, outbond, dan semacamnya sebenarnya terinspirasi dari pemahaman dan pendekatan seni sebagai sarana atau media pendidikan. Trend ini sudah mulai menggejala walau mungkin belum disadari kehadiran seni sebagai media atau sarana. Seyogyanya praktik persekolahan kita menangkap gejala ini dan mengembangkannya sebagai metode belajar yang mengasyikkan. Dapat kita lihat bagaimana orang gandrung dengan acara semacam Cangkru’an, Republik BBM, dsb. Ini semua mengisyaratkan adanya terobosan untuk meretas kebekuan dalam proses belajar masyarakat. Di sinilah seni berperan. Menurut penulis inilah etape ketiga dari apresiasi seni yakni seni sebagai media belajar. Guru dapat mengemas proses belajar siswa dengan menarik. Sayangnya dunia pendidikan kita rupanya kurang responsif terhadap gejala perubahan budaya masyarakat ini sehingga pendidikan kita masih terasa membosankan, miskin inovasi dan tidak berkonteks budaya setempat. Penulis khawatir jika tidak segera disesuaikan dengan gejala perubahan ini, pendidikan kita akan kehilangan makna dan ditinggalkan oleh masyarakat.

Seni Merupakan Kesadaran Tertinggi dalam Proses Belajar

Penulis melihat bahwa seni merupakan ruang kesadaran tertinggi dalam olah rasa, karsa dan cipta, dan merupakan ruang hidup (lebensraum) bagi pendidikan kita. Seni sebagai kesadaran tertinggi, akan menjadi lebih mudah dipahami dengan contoh nyata. Seseorang yang baru belajar silat, gerakannya lambat agar tidak salah dan ia akan berusaha memfokuskan pada gerakan jurus dengan sangat hati-hati. Pada tahap ia sudah mulai mahir, ia sudah mampu memainkan jurus-jurusnya dengan cepat, bahkan tanpa melihat namun masih belum mampu untuk mengembangkan jurus kembangan, tipuan dan sebagainya. Walaupun cepat dan tangkas, namun belum mampu menunjukkan keindahan sebuah jurus sehingga enak ditonton. Pada saat ia telah menjadi mahir betul dan menyandang predikat jawara, pendekar, atau master, ia telah mampu memainkan jurus-jurus bahkan dengan kembangan yang indah dan menghibur, untuk membuat orang merasa senang tanpa harus kehilangan intisari jurus yang sanggup mematikan lawan. Inilah seni bertarung, yang hanya dapat dimainkan oleh mereka yang telah mencapai titik tertinggi dalam kecakapan ilmu bertarung. Karena inilah maka dahulu Muhammad Ali menjadi legendaris dan sangat dipuja oleh para pengemar berat tinju lebih daripada Mike Tyson atau petinju kelas berat lainnya, karena Muhammad Ali mampu menunjukkan keindahan seni bertinju yang enak ditonton, sehingga penonton tidak sekadar disuguhi pemandangan orang bertarung di ring, ber-bag-big-bug, KO dan cepat selesai. Penonton mungkin akan senang melihat jagonya menang, namun mereka kurang puas karena menonton pertarungan yang kaku dan singkat. Ali mampu memuaskan hasrat penonton dengan mengolah pertarungannya menjadi suguhan yang benar-benar indah dan menghibur. Dan ini hanya bisa diraih oleh seorang master, karena tanpa ilmu yang mumpuni, mana bisa ia bertarung dengan gaya “selengekan” tanpa kehilangan daya melumpuhkan lawan.

Seni Sebagai Metode dan Cara Berpikir

Dalam pendidikan pun diperlukan seni untuk bisa menampilkan perilaku mendidik yang memukau dan menawan sehingga jurus-jurus pedagogic yang dilancarkan tampil memikat dan menggairahkan anak didik. Belajar matematika memerlukan seni agar tidak menakutkan, dan sebagainya. Ini dalam skala mikro, bahwa praktik persekolahan (proses belajar) memerlukan seni. Dalam skala makro, pembangunan pendidikan, politik, ekonomi, dan sebagainya, seni mutlak diperlukan.  Sehingga dapat dipahami mengapa Sun Tzu menamai bukunya Seni Berperang (The Arts of War) yang justru banyak diadopsi oleh ilmu manajemen dan bisnis. Mungkin orang bertanya, apa memang perang itu seni (indah)? Gilbert Highet dalam bukunya The Arts of Teaching, dengan jelas menyebutkan bahwa teaching is an art, not a science! Mengajar adalah sebuah seni, bukanlah sebuah ilmu. Sekedar ilustrasi, penyebutan Seni Pemasaran (The Arts of Marketing) akan lebih mengesankan daripada Teori Pemasaran (Theory of Marketing) walaupun keduanya berisi hal yang sama. Apresiasi seni pada jenjang pendidikan tinggi yang dianut beberapa negara, tampak pada penggunaan gelar Master of Arts (MA) pada mereka yang belajar ilmu-ilmu humaniora, social, politik, dan sejenisnya. Di sinilah bukti tingginya apresiasi seni untuk pendidikan pada beberapa negara. Dengan adanya gelar Master of Arts (MA) untuk disiplin ilmu-ilmu humaniora tersebut, seolah ingin mengatakan bahwa persoalan humaniora selayaknya diselesaikan dengan pendekatan seni. Mengapa mereka sampai pada kesadaran pemikiran tersebut? Kembali meminjam logika para jawara tinju di atas, bahwa penguasaan suatu jenis keahlian tertentu dinilai telah mencapai titik kesempurnaan pada saat keahlian tersebut dapat dipresentasikan dengan estetika (seni, arts). Maka akan terdapat ilmu bertinju (untuk tingkat baru belajar) dan seni bertinju (untuk tingkat mahir, setelah paham ilmu bertinju). Guru biasa (ordinary teacher), akan menggunakan teori mengajar, namun guru yang master (expert teacher), akan menerapkan seni mengajar. Seni pendidikan, yang sepatutnya  merupakan target dari pendidikan seni, menjadi sangat perlu diejawantahkan dalam praktik pendidikan kita. Inilah etape keempat apresiasi seni dalam pendidikan yakni seni sebagai metode dan cara berpikir. Karenanya, seni, seyogyanya menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar, proses pendidikan! Apapun minat peserta pendidikan. Bagaimana menurut Anda?***

Artikel ini sebagai kado peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2006, 2007. Merenungkan Pendidikan Yang (Lebih) Manusiawi pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei

 Wawan E. Kuswandoro. Ketua Dewan Pendidikan Kota Probolinggo dan Ketua Forum Komunikasi Dewan Pendidikan Se-Wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: