Pikiran Ortu – Guru Tentukan Masa Depan Anak


Komunikasi Positif Dari Hati ke Hati Antara Ortu - Anak Membawa Dampak Positif Bagi Masa Depan Anak

Pernahkah Anda menyaksikan seorang ibu / ayah yang kesel banget n marah-marah pada anaknya trus mengata-ngatai anaknya (kadang juga gak serius sih.. tapi kata-kata itu terlanjur terdengar kuping si anak): “… bandel banget… dasar anak setan luh…” atau jika ngeliat anaknya terlalu banyak tingkah (sangat aktif) kadang ngomentarinya semacam ini (pake bhs Jawa) “…tingkahe koyok set…” (ulahnya seperti belatung).

Jika menemukan anaknya sulit berpikir ttg sesuatu ketika belajar, trus sang ortu (mungkin krn jengkel juga)… meluncurlah kata-kata sebangsa ini: “… kamu goblok sih…” atau variasi kalimat lain….

Atau apapun ekspresi terucapnya… yg keluar adalah kata-kata negatif

Dalam setting panggung lain, misalnya di sekolah, guru2 sering pula men-stigma (men-cap) anak yg bertindak tidak sesuai dg keinginan sang guru, dengan predikat “anak nakal”, dsb…

Nenek – kakek moyang kita dahulu sering mengingatkan agar kita jangan sembarangan mengucap/ mengata-ngatai anak, krn akan terbukti betulan, menjadi kenyataan (orang Jawa bilang, “mandi pangucape”, kata-katanya manjur/ bertuah).

Anak-anak yang sering mendapat kata-kata negatif semacam di atas, akan menjadi seperti yang diomongkan. Jadi bodoh beneran, nakal beneran… “jadi belatung” beneran (ulahnya yang semakin “tak terkendali”).

Kata-kata negatif tsb merupakan SUGESTI (sayangnya sugesti negatif) yang masuk ke alam bawah sadar si anak tanpa disadari si anak (karena diucapkan oleh orang yang memiliki pengaruh/ otoritas pada kehidupan si anak !). Sedangkan pikiran bawah sadar berkekuatan 88% pada kendali sistem tubuh. Bisa dibayangkan hasilnya… KITA MENGHANCURKAN MASA DEPAN ANAK-ANAK KITA SENDIRI…

Saya memahami kesulitan menjadi orangtua, menjadi guru, dsb… sehingga kadang luput berucap demikian… Ortu dan guru juga manusia, banyak pikiran, banyak tugas, banyak beban… hehe.. dan punya masalah pribadi juga.. belum soal “tekanan” (emang pompa..) lain… dst… dst.. capeek dech….

Ok…..ok…. (…janganlah kau bersedih…. coz everything gonna be okay….)...

MASA DEPAN ANAK-ANAK itu berada pada MINDSET / pemikiran para orangtua atau guru sendiri… Ya tadi itu buktinya… mandi pangucape…

Trus gimana doonk…..

Ok.. tetapi sebelumnya,. mari kita renungkan sejenak:

1. Kapan terakhir kali Anda memarahi anak/ murid?

2. Kapan terakhir kali Anda memuji anak/ murid?

3. Berapa kali sehari/ seminggu Anda memuji anak, atas “prestasi” anak/ murid, sekecil apapun “prestasi”-nya.

4. Berapa kali sehari/ seminggu Anda memarahi/ menghukum anak/ murid atas “kesalahan” yg diperbuat?

5. Ketika bicara dengan anak/ murid, Anda lebih cenderung memahami anak/ murid atau Anda yg minta dipahami oleh anak/ murid?

So… kita lanjutkan yah….

PERTAMA

Kita tengok kondisi si ANAK/ MURID dulu deh…

Si anak/ murid (pikirannya) telah terlanjur menerima aneka jejalan “kata-kata apa saja”… (data input). Mereka merekam dan berpikir, sebagiannya tidak mereka sadari (krn aktivitas pikiran bawah sadar). Ini data processing… Hasilnya…. bisa running well… bisa error… selanjutnya.. pada “perintah lain” di kemudian hari…. sistem operasi si anak menolak… synthax error… (perintah diterjemahkan salah… hasilnya: anak tidak merespons…. gak ngreken..). Trus Anda pasti jengkel.. marah (wajar)… Trus Anda memaksa…. hasilnya… system halted... (anak ngambek)… Selanjutnya bisa ditebak… PROGRAM TERMINATED ! Macet…. Anda pasti tambah eneg, empet dan tambah marah ngeliat si anak… (bisa jadi keluar lagi “kata-kata baru yang lebih seru!”… hehe.. seru nih ceritanya..)..

Dst…. keadaan tidak bertambah baik… tetapi bertambah buruk… (sayangnya tidak kasat mata.. sepintas tampak baik-baik aja…).

KEDUA

Anda pasti sedang mencari cara/ jalan keluar mengatasi masalah ini.. terutama masalah Anda sendiri… mengapa anak-anak menjadi demikian.. Karena Anda sumpek (ditambah masalah lain).. Anda pasti akan merasa terhibur jika Anda tidak dianggap bersalah… tetapi anak-anak lah yang bersalah… dasar anak-anak tak tau diri… tak tau diuntung… anak nakal… dst…. (sementara ini boleh deh ngomong gitu…)…

KETIGA

Pilih di antara 2 ini, jika ingin MENYELESAIKAN MASALAH SEPERTI DI ATAS:

1. Anak-anak lah yang perlu dibina.

2. Anda juga perlu “dibina” (jangan tersinggung pak/ bu.. jika istilahnya “dibina” juga… hehe… artinya: berupaya menjadi lebih baik deh…).

Terjadinya “kasus anak nakal”, “anak bodoh” dsb… tidak pernah terjadi secara parsial artinya, tidak terjadi semata-mata hanya karena faktor si anak/ murid sendiri/ terpisah dari faktor-faktor lain. Komunikasi anak/ murid dengan ortu / guru berpengaruh juga kan….

Kan keadaannya SUDAH TERLANJUR nih… Pikiran anak-anak/ murid terlanjur menerima kata-kata apa saja, pusinglah kepalanya (input data), mengolah data-data tsb (berpikir, dsb)… Dan para ortu/ guru, juga hampir sama, pusing juga…

SOLUSI

1. Perlu untuk menghilangkan emosi negatif sebagai ortu / guru (karena banyak beban, dsb.. biar tidak sibuk menyalahkan diri sendiri, orang lain, dsb… untuk stabilitas emosi lah…).

2. Perlu nge-charge “energi” kesiapan secara mental untuk mendampingi pendidikan anak-anak/ murid-murid.

3. Perlu memperbaiki kualitas performa diri dan metode pendampingan pada anak/ murid.

Semua itu diperlukan untuk membentuk personal excellent, baik sebagai anak/ murid, ortu maupun guru….

Bagaimana menurut Saudara…?

Be a Smart Kid !

Be a Smart Parent !

Be a Smart Teacher !

Be a Personal Excellent !

NOW !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: