Dijual: Indonesia…. Murah Lho…


Gunung emas di Tembagapura, Papua dengan nyaris gratis diberikan kepada pihak asing (Amerika Serikat). Lihat artikel Emas Papua Untuk Sang Juragan: Amerika Serikat !

Campur tangan asing di negeri ini tak hanya merambah sektor industri besar sekelas emas Papua tersebut saja, namun juga menyebar meluas ke sektor-sektor perekonomian strategis di negeri ini !

Ini kabar yang saya kutip dari KabarNet…

 

Jakarta – KabarNet: Cengkraman cakar-cakar pihak asing pada urat nadi perekonomian Indonesia makin lama semakin kuat, meluas dan menyebar ke seluruh sektor-sektor strategis perekonomian di seluruh penjuru tanah air, seperti keuangan, energi dan sumber daya mineral, telekomunikasi, serta perkebunan.

Dengan merajalelanya dominasi penguasaan oleh pihak asing seperti itu, maka pemerintah Indonesia suka atau tidak suka sudah tersandera oleh kepentingan pihak-pihak dari luar Indonesia. Aset-aset milik Indonesia yang sudah dikuasai (dimiliki) oleh pihak asing adalah aset-aset strategis. Bagi bangsa berpikiran waras, menjual aset strategis milik negara dan milik rakyat adalah sama dengan menjual negara itu sendiri.

Berikut ini adalah hanya beberapa saja dari aset-aset Indonesia bersifat strategis yang sudah dikuasai oleh pihak asing:

Sektor Perbankan
Menurut laporan pada bulan Maret 2011, pihak asing telah menguasai 50,6 persen dari seluruh aset perbankan nasional. Dengan demikian, maka sekitar Rp 1.551 triliun (dari total aset perbankan seluruhnya yang berjumlah Rp 3.065 triliun) sudah dikuasai oleh pihak asing. Penguasaan oleh pihak asing ini secara perlahan tapi pasti terus-menerus bertambah. Padahal porsi kepemilikan asing per Juni 2008 masih di kisaran 47,02 persen.

Dari seluruh pangsa perbankan di Indonesia, hanya 15 bank berskala besar yang menguasai pangsa 85 persen. Dan dari 15 bank itu, sebagian sudah dimiliki asing. Dari total 121 bank umum, 47 bank sudah dikuasai oleh pihak asing dengan porsi kepemilikan saham yang beragam.

Sektor Asuransi
Tragedi ekonomi yang membuat rakyat Indonesia harus mengelus dada ini tidak hanya terjadi pada sektor perbankan, bahkan sektor asuransi pun sudah dikuasai pula oleh pihak asing. Menurut data yang dikumpulkan oleh KabarNet, dari 45 perusahaan asuransi jiwa yang beroperasi di Indonesia, sebagian besar sudah dikuasai oleh pihak asing. Jika dibuat pengelompokan dari asuransi jiwa yang ekuitasnya di atas Rp 750 miliar ternyata hampir semuanya usaha patungan. Dan kalau ditinjau dari sisi perolehan premi, maka Lima perusahaan terbesarnya adalah perusahaan asing.

Bagaimana hal ini bisa terjadi adalah tidak terlepas dari aturan pemerintah bergaya sistim ekonomi neo-liberal yang bahkan sengaja dibuat sangat liberal, dimana sangat memungkinkan bagi pihak asing untuk memiliki sampai dengan 99 persen saham perbankan dan 80 persen saham perusahaan asuransi.

Sektor Pasar Modal / Bursa Saham
Tidak hanya itu saja, pasar modal bursa saham pun juga mengalami nasib yang sama. Menurut data yang dikumpulkan oleh KabarNet ternyata total kepemilikan investor asing mendapai 60 s/d 70 persen dari semua saham perusahaan yang dicatatkan dan diperdagangkan di bursa efek.

Sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Kini mari kita tengok tragedi ekonomi serupa yang menimpa Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dari semua BUMN yang telah diprivatisasi, kepemilikan asing sudah mencapai lebih dari 60 persen.

Yang paling tragis adalah di BUMN sektor minyak dan gas bumi. Porsi operator minyak dan gas bumi nasional (migas) hanya sekitar 25 persen, selebihnya 75 persen sudah menjadi milik pihak asing.

Sektor Telekomunikasi
Cengkraman cakar-cakar asing ini pun bahkan merambah ke BUMN strategis seperti Telkom. Saat ini Telkom merupakan salah satu BUMN yang sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia (51,19%) dan oleh publik sebesar 48,81%. Sebagian besar kepemilikan saham publik tersebut (45,58%) dimiliki oleh investor asing, dan sisanya (3,23%) oleh investor dalam negeri. Perlu diingat bahwa Telkom yang hampir separuhnya sudah milik asing ini juga menjadi pemegang saham mayoritas di 9 anak perusahaan, termasuk PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dengan berbagai macam produk selularnya.

Demikian juga yang menimpa PT.Indosat Tbk., sebelumnya bernama PT Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Persero), adalah sebuah perusahaan penyedia layanan telekomunikasi yang lengkap dan terbesar kedua di Indonesia untuk jasa seluler (Matrix, Mentari, IM3, IM2, dll). Komposisi kepemilikan saham PT.Indosat yang dulunya mayoritas milik pemerintah, per Juni 2011 yang lalu sudah berubah menjadi: milik QTEL Asia (65%), Pemerintah Republik Indonesia (14,29%), Skagen AS (5,57%), dan publik (15,14%).

Sektor Telekomunikasi Swasta
[1] XL: Pemegang saham XL per 26 April 2011 adalah:

Axiata Investments (Indonesia) Sdn Bhd (dahulu Indocel Holding Sdn Bhd) (66,6%), merupakan perusahaan yang dimiliki 100% oleh Axiata Investments (L) Limited (dahulu TM International (L) Limited) yang merupakan anak perusahaan Malaysia bernama Axiata Group Berhad (“Axiata”).

Etilasat International Indonesia Ltd. Menguasai saham XL sebesar 13,3%, merupakan perusahaan yang dimiliki 100% oleh Emirates Telecommunications Corporation (“Etilasat”), sebuah perusahaan jasa telekomunikasi di Uni Emirat Arab.

Saham XL yg dimiliki oleh Publik adalah 20,1%.

[2] AXIS: Pada mulanya bernama PT Natrindo Telepon Seluler pada awalnya merupakan bagian dari Grup Lippo, yang diakuisisi oleh Maxis Communications Berhad, masing-masing sebesar 51% pada bulan Januari 2005 dan 44% pada bulan April 2007. Pada bulan Juni 2007 Saudi Telecom Company mengakuisisi 51 persen saham Natrindo yang dimiliki Maxis, sehingga saham Maxis di Natrindo hanya tinggal 44 persen. Pada tanggal 7 Juni 2011, berdasarkan persetujuan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, nama badan hukum perusahaan AXIS diubah dari PT Natrindo Telepon Seluler menjadi PT AXIS Telekom Indonesia.

Kalau KabarNet melanjutkan penulisan tentang hal ini, maka akan menjadi sebuah makalah panjang yang memerlukan pembahasan tersendiri. Maka sebelum kami menutup catatan singkat ini, ada sebuah pertanyaan besar yang membutuhkan jawaban segera. Aset-aset milik Indonesia yang sudah dikuasai (dimiliki) oleh pihak asing tersebut adalah aset-aset strategis. Bagi bangsa berpikiran waras, menjual aset strategis milik negara dan milik rakyat kepada pihak asing adalah sama dengan menjual negara itu sendiri.

Pertanyaan besarnya adalah: “Haruskah rakyat Indonesia berdiam diri menyaksikan negara Indonesia tercinta ini dijual sedikit demi sedikit kepada pihak asing?” Lalu apakah yang akan kita sisakan untuk anak cucu kita kelak? . [KbrNet/Adl/Kmps/Wk]

 

 

Masih banyak lagi………. misalnya…

  • Tambang emas uranium Freeport di Papua.
  • Tambang Emas di Sumbawa (Newmont).
  • Pengeboran minyak Blok Cepu (dikuasai ExxonMobil).
  • Pengeboran minyak dan gas bumi di Muara Badak (dikuasai VICO dan British Petroleum).
  • Pengeboran minyak di Dumai, Bengkalis Minas-Siak, Rumbai-Pekanbaru (dikuasai Chevron).
  • Pengeboran minyak di Laut Jawa (dikuasai CNOOC Cina).

dll….

 

 

 

 

Clash of Civilization in Action


Drama peradaban manusia kini mulai merambat menuju klimaks dengan judul Clash of Civilization Part II yang kali ini memunculkan episode partai pembuka: “Serangan Israel ke Iran”.

Ketegangan Iran dan Amerika Serikat tentang proyek nuklir Iran, yang menurut Iran proyek tsb adalah untuk kemanusiaan, untuk kepentingan teknologi dan energi alternatif masa depan, dan ditentang habis-habisan oleh Amerika Serikat dan kroni-kroninya (Israel, Inggris, dll).

Mahmoud Ahmadinejad (Presiden Iran): “Kalau teknologi nuklir itu buruk, mengapa kalian mengembangkannya? Dan kalau teknologi nuklir itu baik, mengapa kami tidak boleh mengembangkannya”.

Perseteruan Iran dan Amerika Serikat akhirnya membawa Israel untuk merencanakan penyerangan terhadap Iran. Menurut salah satu sumber di Inggris, Israel paling cepat melancarkan aksi penyerangan pada peringatan Natal Desember 2011 atau awal tahun baru 2012.

Mahmoud Ahmadinejad (Presiden Iran):  “Bangsa Iran bisa mencapai tujuan melalui refleksi, kekayaan budaya dan kebijaksanaan”.

Ia memperingatkan AS dan sekutunya atas tuduhan tak berdasar yang dialamatkan pada negaranya, bahwa Iran tidak akan tinggal diam atas tuduhan tersebut. Negaranya akan merespon setiap tindakan apapun yang berani dilakukan AS terhadap Iran. Kepala Dewan Keamanan Nasional mengatakan bahwa pemerintah AS telah menunjukkan arogansinya dengan menuduh Iran memproduksi bom nuklir, padahal negara AS sendiri memiliki lebih dari 5.000 bom atom.

Ahmadinejad juga mengecam komitmen Washington untuk juga melucuti senjata nuklirnya. Bahkan, lanjutnya, AS telah mengalokasikan dana tambahan sebesar US$ 81 miliar (Rp 72,4 triliun) untuk mengembangkan bom atom, sementara anggaran nuklir Iran hanya US$ 250 juta (Rp 2,2 triliun).

Berdasarkan fakta tersebut, ia mempertanyakan, apakah Iran atau AS yang pantas dituding membahayakan keamanan global.

Berikut saya kutip beberapa perkembangan terkini…

Iran – Israel Di Ambang Perang

Teheran – Santernya berita mengenai rencana serangan militer Israel ke Iran semakin kencang. Harian terkemuka Israel, Haaretz memberitakan bahwa Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu saat ini sedang berusaha keras  mencari dukungan kabinet dan parlemen Israel untuk menggempur Iran guna menghancurkan program nuklirnya.

Sebagai reaksi dari ancaman serangan tesebut, angkatan bersenjata Iran saat ini dalam kondisi bersiaga penuh. Bahkan komandan tertinggi militer Iran Jenderal Hassan Firouzabadi menegaskan, negaranya akan menghukum dan membuat Israel menyesal jika ancaman itu benar-benar dilakukan.

“Kami menganggap setiap ancaman — bahkan ancaman dengan kemungkinan kecil — sebagai ancaman pasti. Kami saat ini bersiaga penuh,” tegas Firouzabadi seperti diberitakan kantor berita Iran, Fars yang dilansir oleh AFP, Kamis (3/11/2011). “Dengan peralatan yang tepat, kami siap menghukum mereka dan membuat mereka menyesal telah melakukan kesalahan,” cetusnya lagi.

Amerika Serikat pura-pura tidak tahu
Terkait rencana gempuran Israel ke Iran tersebut, pemerintah Barrack Obama menolak berkomentar mengenai kemungkinan serangan militer Israel ke Iran. “Saya tak akan merespons spekulasi seperti itu,” kata juru bicara Gedung Putih Jay Carney.  Suatu hal yang aneh apabila Washington tidak mengetahui rencana serangan tersebut, mengingat bahwa tentara Israel dilatih oleh personil-personil militer dari Amerika Serikat. “Kami tetap fokus pada saluran diplomatik di sini, cara diplomatik dalam hal berurusan dengan Iran,” pungkasnya.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan negara-negara bloknya  sangat bercuriga bahwa Iran diam-diam berupaya mengembangkan senjata atom lewat program nuklir yang dijalankannya. Namun pemerintah Iran sudah berulang kali membantah dan menegaskan bahwa program nuklirnya hanya semata-mata ditujukan untuk tujuan damai dan kemanusiaan, yakni sebagai reaktor pembangkit energi bagi kepentingan sipil.

Sejumlah pihak menganggap bahwa serangan terhadap Iran akan mengakibatkan perang regional dan krisis kemanusiaan yang mengerikan yang diyakini akan melibatkan kelompok-kelompok anti Zionis semacam Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina yang dikenal berhubungan baik dan mendapat bantuan rutin dari Iran. [KbrNet/ADL/DTC]

Pejabat Inggris: Israel Gempur Iran Bulan Depan

LONDON –  KabarNet: Tindakan provokasi menekan Iran yang dilakukan oleh Israel dan sekutunya terus saja berlangsung. Bahkan makin lama semakin serius. Pejabat tinggi pemerintah Inggris mengklaim bahwa dia mempunyai informasi yang valid soal kapan Iran bakal diserang. “Kami perkirakan itu akan terjadi paling cepat saat Natal atau di awal-awal tahun baru,” kata pejabat tersebut seperti dirilis oleh harian Daily Mail, Kamis (10/11/2011).

Menurut pejabat Inggris tersebut, ada konsensus yang sudah mengetahui bahwa Israel akan menghancurkan, atau setidaknya merusak fasilitas-fasilitas nuklir Iran. Rencana penghancuran itu akan dibantu oleh support logistik dari Amerika Serikat. Demikian koran Daily Mail melaporkan.

Masih ada lagi sumber lainnya, yaitu pejabat senior di Kementerian Luar Negeri Inggris, mengatakan bahwa sejumlah menteri di kabinet Inggris sudah mengetahui tentang rencana serangan ini. Yakni Israel sudah hampir pasti akan menyerang Iran untuk mencegah negara itu memiliki dan mengembangkan teknologi senjata nuklir yang bisa mengancam hegemoni Israel di kawasan Timur Tengah.

“Mereka sudah mengetahui, kemungkinan besar serangan ini akan berjalan lebih cepat dari yang dijadwalkan. Kami memprediksikan sekitar akhir Desember atau awal Januari 2012,” demikian sumber pemerintah Inggris tersebut mengungkapkan.

Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague, sesudah membaca laporan Badan Atom Internasional IAEA yang memeriksa fasilitas nuklir Iran, mengatakan bahwa laporan itu mendiskreditkan posisi Iran. Menurut IAEA, Iran mampu mengembangkan teknologi nuklir sipilnya untuk dirubah menjadi teknologi militer.

Selanjutnya laporan itu menyebutkan bahwa Iran sejak 2003 terus menerus melakukan uji coba teknologi nuklirnya untuk dijadikan senjata. Untuk menyikapi hal ini, maka Inggris mengusulkan agar dikenakan embargo ekonomi terhadap Iran.

Para pejabat Inggris meyakini, bahwa Presiden AS Barack Obama akan terpaksa mendukung opsi militer Israel, atau, berisiko kehilangan dukungan penting dari kelompok Yahudi-Amerika dalam pemilihan presiden AS mendatang.

Beberapa waktu yang lalu, sumber-sumber Kementerian Pertahanan Inggris memberikan konfirmasi bahwa rencana kontingensi telah disusun sekiranya Inggris nanti mengambil keputuskan untuk mendukung serangan militer Israel terhadap Iran. Menlu Inggris William Hague juga telah memperingatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa ambisi nuklir Teheran dapat memicu perlombaan senjata di kawasan Timur Tengah. Oleh karenanya, Inggris juga mendukung serangan Israel ke Iran. Bahkan sebuah sumber di Kementerian Luar Negeri Inggris menyatakan bahwa negaranya berharap Israel segera menggelar operasi militernya di Iran. [KbrNet/Adl/YhN]

Iran Peringatkan Israel dan Amerika

Tehran – KabarNet: Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei mengatakan setiap serangan militer akan dihadapi Iran dengan ‘’Tamparan keras dan tinju baja’’. Pernyataan Sang Ayatullah Kamis lalu, menggambarkan Iran sebagai korban meningkatnya kampanye internasional dari apa yang disebutnya sebagai ‘’Iranophobia’’ oleh kekuatan asing yang korup.

Memang kampanye memojokkan Iran meningkat setelah Selasa lalu, Badan Atom Internasional (International Atomic Energy Agency), badan pengawas atom internasional yang berada di bawah PBB mengumumkan bahwa Iran sedang mempersiapkan senjata nuklir. Selain itu dilaporkan, Iran sedang melakukan percobaan mengirimkan bom dengan peluru kendali. Padahal Iran selama ini menegaskan semua proyek nuklirnya untuk kepentingan damai.

‘’Mereka yang berpikir untuk menyerang Republik Islam Iran harus bersiap untuk menerima ‘’Tamparan keras dan tinju baja’’, kata Ayatullah Khamenei ketika berpidato di depan para perwira di Akedemi Militer Teheran, seperti disiarkan media pemerintah negeri itu. ‘’Para musuh, terutama Amerika Serikat dan para bonekanya, serta Rezim Zionis Israel, harus tahu bahwa Iran tak akan melakukan invasi terhadap negeri atau bangsa mana pun, tapi akan membalas setiap serangan atau ancaman dengan kekuatan penuh untuk menghancurkan mereka.’’

Pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran itu tampaknya untuk mengingatkan Barat – terutama Israel – bahwa Iran tak gentar menghadapi semua kemungkinan. Seperti diketahui sejak IAEA mengumumkan temuannya tentang nuklir Iran, media Israel gencar memberitakan kemungkinan pesawat-pesawat terbang Israel segera menyerang instalasi nuklir Iran, sebagaimana pernah dilakukan negara Yahudi itu dulu terhadap Iraq.

Gencarnya pemberitaan itu menyebabkan para pengamat mencurigai Israel segera melakukan serangan. Soalnya tanpa serangan itu, Iran akan berhasil dengan proyek nuklirnya. Kenapa? Selama ini sejumlah negara Barat ingin menggunakan Dewan Keamanan PBB untuk menggagalkan proyek nuklir itu. Tapi sikap Rusia dan China – dua anggota tetap Dewan Keamanan PBB – yang jelas mendukung Iran, menyebabkan upaya melibatkan Dewan Keamanan tak akan berhasil. Kedua negara itu memiliki hak veto. Jadi bagi Israel, jalan terbaik adalah melakukan serangan. Hanya saja, untuk itu harus ada lampu hijau dari Amerika Serikat.

Soalnya, serangan Israel ke Iran akan menghadapi balasan bukan cuma dari Iran, tapi melibatkan Suriah dan Hezbullah di Lebanon. Selama ini Israel tentu sudah merasakan betapa repot menghadapi gerilyawan Hezbullah yang terlatih dengan militansi tinggi. Artinya, dengan serangan militer Israel ke Iran berarti Timur Tengah akan terbakar.

Karena itulah tampaknya lampu hijau dari Amerika Serikat belum juga menyala. Di Washington, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon E. Panetta malah menyatakan serangan militer kepada Iran memiliki dampak yang amat serius bagi Timur Tengah dan mungkin juga bagi pasukan Amerika Serikat yang berada di kawasan itu. ‘’Kau harus hati-hati dengan konsekuensi yang tak diperhitungkan,’’ kata Panetta kepada wartawan.

Sebelumnya, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengecam sikap Amerika Serikat (AS) yang dinilainya mencari kekayaan dengan mengendalikan dan merampok kekayaan negara lain. Ia menegaskan bahwa bangsa Iran tidak membutuhkan bom atom untuk kalahkan Amerika. “Bangsa Iran bisa mencapai tujuan melalui refleksi, kekayaan budaya dan kebijaksanaan,” ujarnya, Selasa.

Ia memperingatkan AS dan sekutunya atas tuduhan tak berdasar yang dialamatkan pada negaranya, bahwa Iran tidak akan tinggal diam atas tuduhan tersebut. Negaranya akan merespon setiap tindakan apapun yang berani dilakukan AS terhadap Iran. Kepala Dewan Keamanan Nasional mengatakan bahwa pemerintah AS telah menunjukkan arogansinya dengan menuduh Iran memproduksi bom nuklir, padahal negara AS sendiri memiliki lebih dari 5.000 bom atom.

Ahmadinejad juga mengecam komitmen Washington untuk juga melucuti senjata nuklirnya. Bahkan, lanjutnya, AS telah mengalokasikan dana tambahan sebesar US$ 81 miliar (Rp 72,4 triliun) untuk mengembangkan bom atom, sementara anggaran nuklir Iran hanya US$ 250 juta (Rp 2,2 triliun). Berdasarkan fakta tersebut, ia mempertanyakan, apakah Iran atau AS yang pantas dituding membahayakan keamanan global.

Ia juga mengecam kepala Badan Energi Atom Internasional Yukia Amano karena gagal untuk bertindak secara independen. “Sayangnya, mereka telah ditunjuk di lembaga yang tidak memiliki otoritas sendiri, melanggar peraturan dari organisasi menyuarakan aspirasi AS.”  [KbrNet/NewYork Times/AmranNst/Pelita].

 

Benturan Peradaban

Amerika Serikat tampaknya benar-benar terobsesi dengan tesis Samuel Huntington, Clash of Civilization, benturan kebudayaan. Dia antara kebudayaan besar dunia adalah kebudayaan Barat, Islam dan China. Clash of Civilization ini meniscayakan perebutan pengaruh atas kebidayana global bahwa tidak ada yang bisa disebut universal kecuali kekuatan-lah (power) yakni power terkiuatlah byang pantas disebut sebagai universal. Dalam konteks teknologi nuklir, Amerika Serikat benar-benar sangat memahami tentang kebutuhan energi masa depan ketika energi fosil tidak bisa diandalkan. Ekspolarasi luar biasa energi berbasis fosil pada masa kini akan berakibatr sangat buruk pada kelangsungan generasi masa depan. Bayangan krisis energi sangat nyata di mata Amerika Serikat. Dan tidak ada yang dapat menolong peradaban umat manusia sedunia di masa depan kecuali ENERGI NUKLIR ! Dan Amerika Serikat sangat terobsesi untuk mengauasai energi nuklir sehingga dengan demikian iaakan tetep menjadi POWER TERKUAT di dunia. Tentu saja, ambisi besarnya ini mendapat saingan yang luar biasa –sembari terlucuti rahasianya– ketika Iran muncul dengan teknologi nuklirnya yang dengan diam-diam dikembangkannya !

Iran (Republik Islam Iran) adalah satu-satunya negara Timur Tengah yang mengembangkan teknologi nuklir secara mandiri (tanpa tergantung Amerika), walaupun pada mulanya ia mempekerjakan ilmuwan Barat dan Rusia, namun pada akhirnya teknologi nuklir Iran dikembangkan sendiri oleh para ilmuwan Iran. Dan negara (Timur Tegah dan negara Islam) satu-satunya yang secara berterang memusuhi dan melawan Amerika Serikat, –yang bagi negara-negara di dunia, termasuk negara-negara Islam (misal Saudi Arabia) dan  juga Indonesia–,  adalah “juragan” ideologi dan kiblat ilmu pengetahuan serta panutan politik!

Kiranya, alasan Iran sangat masuk akal. Ia berpikir demi kelangsungan hidup masyarakatnya di masa depan; lebih lanjut kelangsungan hidup umat manusia di masa depan ketika kriosis energi tak terelakkan !

Adapun, negara-negara lain yang termakan propaganda Amerika Serikat (termasuk Indonesia) berkaitan dengan pengembangan teknologi nuklir, disesuaikan dengan “potensi penolakan laten” di masing-masing negara. Misalnya, Indonesia, memanfaatkan pro-kontra dan keterbatasan masyarakat dan ilmuwan Indonesia terhadap nuklir: bahaya, limbah nuklir, halal-haram, dsb…

Akankah kekuatan politik-budaya dunia masa depan terpolarisasi menjadi kebudayaan Amerikanis (dengan pengikut: negara-negara Barat dan negara-negara yang kini menjadi sekutu baik AS) vs kebudayaan Islamis/ Iranis (dengan pengikut: ….???)…

Mari kita ikuti bersama kisah peradaban manusia ini….

Akankah Israel melanjutkan penyerangan?

Bagaimana posisi Yahudi (gerakan politik dan agama) dalam sengket Israel – Iran ini?

Sikap Amerika Serikat pasca serangan Israel (jika Irael jadi menyerang Iran)?

Sikap negara-negara Islam dan negara-negara Timur Tengah ?

Sikap Indonesia? Ikut juragan (AS) atau ikut membela kebenaran?

Emas Papua Untuk Sang Juragan: Amerika Serikat !


Freeport adalah pertambangan emas terbesar di dunia! Namun termurah dalam biaya operasionalnya. Sebagian kebesaran dan kemegahan Amerika sekarang ini adalah hasil perampokan resmi mereka atas gunung emas di Papua tersebut. Freeport banyak berjasa bagi segelintir pejabat negeri ini, para jenderal dan juga para politisi busuk, yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini. Mereka ini tidak lebih baik daripada seekor lintah!

Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport.”
Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.

Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.

Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah spertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.

Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C.Long juga aktif di Presbysterian Hospital di NY dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.

Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C.Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?

Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport!. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia.

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.

Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setelab 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.

Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia!!

Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapur a sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh perampokan besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!!

Kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua yang sampai detik ini masih saja hidup bagai di zaman batu.

Freeport merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini, yang dari sipil maupun militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.

Penulis: Effie Emzieta (KASKUS.US), dengan judul asli “Amerika Serikat Dibangun dari Emas Papua“.

Nasionalisme di Tengah Globalisasi dan Modernisasi


Refleksi Hari Soempah Pemoeda: Pesan Untuk Generasi Muda

Benarkah nasionalisme sedang meluntur seiring arus deras globalisasi yang mengaburkan batas-batas satuan kebudayaan dalam sebuah Negara-bangsa? Benarkah sentimen nasionalisme tidak lagi relevan dengan konteks modernisasi yang meniscayakan kepentingan individu?  Perubahan social telah terjadi, dan sebaiknya disikapi secara tepat. Pelestarian nasionalisme, memerlukan formula tepat pula.

Melestarikan ideologi nasionalisme dari masyarakat multikultur dengan sentimen etnisitas dan ikatan primordial yang masih cukup kuat memang tidak mudah. Ditambah isu kedaerahan yang makin menguat bersamaan derasnya gerakan desentralisasi berbalut jargon kemandirian daerah, pemilukada, makin mendekatkan orang pada isu kelokalan dan menjauhkan pada isu yang dipandang sebagai “urusan nasional”. Nasionalisme, mau tidak mau dipandang sebagai isu berlevel nasional, berurusan dengan keutuhan dan ketahanan negara, dan itu domain pemerintah pusat. Terdapat gejala alienasi (keterasingan) terhadap isu nasionalisme terutama di kalangan generasi muda. Saya tidak yakin jika jiwa nasionalisme telah luntur, hanya terasing dan kurang terstruktur saja, karena perubahan social dan budaya yang terbawa arus globalisasi dan modernisasi.

Nasionalisme Prosedural vs Substansial

Sebenarnya, apakah nasionalisme itu? Apakah seperti selalu menyukai lagu-lagu nasional, hafal nama-nama pahlawan, hafal teks Proklamasi, selalu menggunakan istilah dan bahasa Indonesia, suka lagu Indonesia, anti lagu asing, dsb? Dalam konteks yang agak “modern”, apakah yang selalu bercita rasa Indonesia mulai dari penggunaan nama-nama orang yang dirasa mengindonesia, memakai barang buatan Indonesia, makan makanan asli Indonesia, lebih menyukai si Unyil ketimbang Upin – Ipin, selalu berada di tanah Indonesia, selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya pada setiap acara resmi, gemar   membawa-bawa bendera Merah Putih ke mana-mana termasuk ketika menjadi supporter sepak bola, mengenakan kaos “Garuda di Dadaku” dan selalu berharap tim Indonesia menang serta marah besar ketika timnas kalah, bahkan sangat marah ketika membaca berita wilayah Indonesia masuk peta negara lain kemudian ramai-ramai membuat dukungan di situs jejaring social untuk mencaci-maki negara tetangga? Semangat pembelaan terhadap Indonesia memang kentara pada aksi  tersebut. Lantas kita tengok, pada saat yang bersamaan, kita menyaksikan konflik dan kekerasan social melanda antar kelompok dan etnis, di antara orang Indonesia yang tadi dibela-bela tersebut! Sebut saja misalnya konflik Priok, Ambon, Poso hingga kekerasan pasca pemilukada. Jika nasionalisme dimaknai sebagai “solidaritas sebangsa”, maka nasionalisme hanya muncul ketika menghadapi “common enemy” (“musuh bersama”) seperti dalam kasus klaim budaya dan wilayah antara Indonesia-Malaysia, atau “nasionalisme bola”, setia pada tim kesayangan karena ada “musuh bersama” yakni kesebelasan lawan. Ketika tidak ada “musuh bersama”, nasionalisme tak tampak batang hidungnya, justru yang mengemuka adalah sentimen kelompok. Aksi-aksi yang sepintas tampak seperti aksi nasionalisme, saya namai “nasionalisme procedural”, bersifat mekanis, berbasis satuan kebudayaan (etnis, besar atau kecil), homogenitas, munculnya temporal, cenderung tidak stabil, dasar gerakannya adalah stimulus, menunggu perkara. Nasionalisme substansial, muncul dari sentiment kebersamaan yang melihat substansi solidaritas yang tidak selalu melihat homogenitas sebagai perekat, serta rasa bangga sebagai imaged nation.

Globalisasi dan Modernisasi

Pandangan klasik antropologi sosial mengaitkan nasionalisme dengan dualitas: nasional – lokal, bangsa – etnis, sehingga memunculkan paham-paham negara-bangsa (nation state) dan etnis dalam bahasan nasionalisme. Konsep bangsa digunakan untuk menggambarkan kategori-kategori besar masyarakat (Lewis, 1985). Identitas nasional dihadapkan dengan identitas etnik. Mengikuti pandangan ini, maka nasionalisme diasumsikan berkembang ketika nasion, yang dipandang sebagai satuan kebudayaan yang lebih besar, mendapat porsi lebih ketimbang etnis, satuan kebudayaan yang lebih kecil. Pandangan ini sulit menggambarkan keadaan di mana homogenitas menjadi langka, negara modern yang tidak hanya berisi satu kategori etnik,  batas-batas satuan kebudayaan (nation, etnis) menjadi kabur, dinamika dan mobilitas orang sangat cepat bahkan menembus batas “territorial” satuan kebudayaan kecil (etnis) dan besar (nation). Seringkali orang juga tidak saling mengenal. Masyarakat multicultural juga mengaburkan makna identitas yang sering disanjung sebagai perekat nasionalisme. Lantas, akankah nasionalisme menjadi lekang oleh jaman, tergerus arus globalisasi? Dan bagaimanakah menumbuhkan nasionalisme di kalangan generasi muda dalam konteks ini? Bahasan nasionalisme dalam konteks modernisasi dan perubahan social dalam pusaran arus globalisasi menjadi lebih berarti ketimbang konteks identitas social. Dalam batas satuan kebudayaan yang makin maya, maka nasionalisme lebih tepat dipandang sebagai sebuah sentimen atau gerakan. Sejalan dengan Ernest Gellner (1983), bahwa nasionalisme adalah prinsip politik, maka satuan nasion, harus sejalan dengan satuan politik. Maka, sentiment nasionalis adalah rasa marah yang timbul akibat pelanggaran terhadap prinsip ini. Dan, menurut Gellner, nasionalisme adalah suatu legitimasi politik. Sejalan dengan konteks globalisasi, agaknya gagasan Bennedict Anderson tentang nasionalisme lebih relevan. Anderson mendefinisikan nasion sebagai “an imagined political community” (komunitas politik terbayang). Imagined (terbayang) di sini lebih berarti “orang-orang yang mendefinisikan dirinya sebagai anggota suatu nasion meskipun mereka tidak pernah bertemu dan mengenal bahkan mendengar warga lain, namun dalam pikiran mereka hidup sebuah citra (image) mengenai kesatuan komuni bersama. Jika Gellner memusatkan perhatian pada politik, Anderson memperhatikan sentimen nasional. Ketika nasionalisme dipandang sebagai “kesetiaan primordial dan solidaritas berbasis asal-usul” (berakhir pada pengertian ‘negara’), masih harus berhadapan dengan “anomali nasionalisme” yakni ketika berhadapan dengan modernisasi yang membuat orang cenderung berperilaku individualis, lebih mementingkan diri sendiri sebagai pilihan rasional ketimbang negara.

Bermanfaat Bagi Kepentingan Negara

Kiranya, menyimak perubahan social dan budaya yang telah terjadi, pemahaman nasionalisme tidak lagi relevan jika hanya dikaitkan dengan mendikotomikan nation etnis, di mana kedekatan dengan terminologi nation (lingkup lebih besar) ketimbang etnis (lebih kecil) selalu disebut nasionalisme. Yang disebut “lingkup kecil”, dalam konteks Negara modern, termasuk pula daerah, lokal. Maka, mengikuti pandangan ini, mendahulukan kepentingan lokal (yang lebih dekat) adalah tindakan tidak nasionalis. Ini justru tidak masuk akal. Tanpa meributkan batas-batas satuan kebudayaan, nation – etnis, maka yang lebih bermakna bagi pelestarian nasionalisme di kalangan generasi muda adalah “berbuat demi dan bermanfaat bagi kepentingan negara”, di manapun berada, baik di “satuan kebudayaan” yang kecil, besar bahkan di luar wilayah Negara sekalipun. Inilah nasionalisme substansial, lebih relevan, ketika globalisasi meniadakan batas dan modernisasi mempersempit arena Negara. Selebihnya, biarkan Negara yang mendefinisikan posisinya, masih layakkah dibela, masihkah bisa memberikan rasa bangga, membuat nyaman, menciptakan rasa memiliki seperti sinyalemen Greenfield (Nationalism: Five Roads to Modernity) sehingga masih bisa dirasakan (imagined) keberadaannya. Atau, jangan-jangan, bahasan nasionalisme menjadi tak relevan lagi?***

Download artikel:

Nasionalisme di Tengah Globalisasi dan Modernisasi

Komputerisasi Politik


Komputerisasi Politik

Dosen              : Wawan E. Kuswandoro

Contact           : wkuswandoro@gmail.com; 08123476361.

Isi note ini:

Bag. 1. Desain Belajar

Bag. 2. Tugas (di bagian akhir note ini).

Mata kuliah ini sebagai kelanjutan dari mata kuliah polling politik dan opini publik, memberikan penguasaan penggunaan komputer beserta perangkat lunak (software) aplikasi sebagai alat bantu penelitian politik.

Untuk mencapai target materi pembelajaran tersebut, mahasiswa akan belajar:

  1. Konsepsi dasar komputerisasi politik, meliputi pemahaman dasar tentang hubungan teori dan penelitian serta kuantifikasi politik. Mengapa perlu dikuantifikasikan?
  2. Analisis statistik dan skala pengukuran.
  3. Aplikasi komputerisasi politik dalam penelitian survey/ polling.

3.1. Ukuran Sample (Size of Sample) dan Sub Populasi.

3.2. Sampling Technique.

3.3. Menentukan unit sample dan Tabel Angka Random.

3.4. Mendesain Sampling Sistematik & Sampling Cluster (Prijana, 24)

3.5. Kuantifikasi kuesioner (Coding).

3.6. Latihan Soal.

4. Kuantifikasi Isu Politik Dalam Kuesioner dan Konversi Software (Excell, praktik).

4.1.Kuantifikasi kuesioner terisi.

4.2.Konversi Software aplikasi (Excell).

4.3.Latihan Soal.

 

5. Penggunaan Software Excell – 2 (Lab)

5.1. Manipulasi & Penyajian Tabel dan Grafik.

6. Latihan Soal (Lab)

7. Latihan Soal (Lab)

8.      UTS

9. Penggunaan Software SPSS – 1 (Lab)

9.1. Manajemen data entry.

9.2.Latihan Soal dan Praktik.

10. Penggunaan Software SPSS – 2 (Lab)

10.1.        SPSS Editor.

10.2.        Computing & Analizing Data.

11. Penggunaan Software SPSS – 3 (Lab)

11.1.        Exporting SPSS to Excell.

11.2.        Tabel, Grafik.

11.3.        Laporan hasil analisis data.

12. Praktik – 1.

13. Praktik – 2.

14. Praktik – 3.

15.  UAS.


Kriteria Penilaian:

–          Praktik: 30%

–          Tugas: 20%

–          UTS : 25%

–          UAS : 25%

 

Download Silabus:

Komputerisasi Politik – Silabus

Tugas di bawah ini kerjakan dan kumpulkan sebelum UTS ya….

KOMPUTERISASI POLITIK

TUGAS

Ketentuan:

  1. Kerjakan open book, gunakan sumber-sumber/ referensi apapun yang membantu.
  2. Tiap-tiap mahasiswa harus mengerjakan tugasnya masing-masing; kerjasama (jika diperlukan) hanya boleh dilakukan dalam hal mencari bahan/ referensi, TIDAK dalam hal teknis pengerjaan tugas (tidak diperkenankan copy paste hasil pekerjaan mahasiswa lain).
  3. Jawaban tugas diketik format MS-Word, kirimkan ke email: wkuswandoro@gmail.com sebagai attachment, paling lambat 3 (tiga) hari sebelum tanggal/ jadual UTS mata kuliah Komputerisasi Politik dilaksanakan. Subject email dan nama file jawaban tugas: Komputerisasi Politik <NAMA MAHASISWA> <NIM>.

(Jika jawaban tugas dikerjakan menyalahi atau di luar ketentuan ini, maka tugas tsb tidak dinilai. Pelaksanaan UTS Komputerisasi Politik, dengan cara tes langsung di hadapan dosen pengampu mata kuliah Komputerisasi Politik. Tiap-tiap peserta UTS harap membawa laptop).

Soal:

  1. Komputerisasi Politik menjembatani kebutuhan pemahaman teori dan penelitian, melalui usaha kuantifikasi politik.
    1. Mengapa fenomena politik perlu dikuantifikasikan ?
    2. Beri contoh fenomena politik yang bisa dikuantifikasikan, dan nyatakan dalam bentuk tabel untuk memperjelas contoh tsb!
    3. Komputerisasi politik sebagai sebuah disiplin ilmu khusus, berhubungan erat dengan penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data terkumpul dari lapangan.
      1. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah analisis data tsb !
      2. Dalam penelitian kuantitatif, kita mengenal 2 teknik analisis data yang menggunakan alat-alat statistik, yaitu analisis data statistic deskriptif dan analisis data inferensi. Jelaskan masing-masing.
      3. Pengukuran, dalam penelitian kuantitatif, adalah pemberian nilai atribut/ karakteristik elemen (objek penelitian) berdasarkan aturan tertentu. Sedangkan penskalaan (scaling) adalah penempatan angka dalam satu garis lurus (continuum) untuk memudahkan perbandingan. Hal-hal yang diukur, misalnya: kepuasan pelanggan, sikap karyawan, motivasi karyawan, persepsi mahasiswa, dsb. Kita mengenal ada 4 (empat) skala utama: nominal, ordinal, interval dan rasio. Jelaskan masing-masing skala tsb dan beri contoh !
      4. Dalam penelitian kuantitatif, diantaranya adalah survey/ polling, kita mengenal istilah: populasi, sub populasi, sampel, ukuran sampel (size of sample), teknik sampling, kerangka sampling.
        1. Jelaskan pengertian masing-masing istilah tsb!
        2. Mengapa dalam penelitian kuantitatif dilakukan sampling?
        3. Sebutkan dan jelaskan metode sampling yang Anda ketahui (boleh lebih dari satu).

—SELAMAT MENGERJAKAN—

Salam, Wawan E. Kuswandoro

Download Tugas

KOMPUTERISASI POLITIK – TUGAS Pra UTS

Nihongo No Konyol


Cara Konyol Belajar Bahasa Jepang

Bahasa adalah unsur budaya. Agar tak lepas konteks, kita tengok dulu budaya asal bahasa tersebut. Mempelajari kehidupan manusia memang mengasyikkan. Perilaku, hubungan social, budaya dan karakter masyarakat termasuk  masyarakat bangsa-bangsa, disamping menambah wawasan kemanusiaan, juga semakin menyadari bahwa dibalik keunikan budaya suatu bangsa tersimpan “kekuatan”. Menarik untuk dipelajari (learning about the people). Kita bisa belajar daripadanya (learning from the people). Salah satu unsur budaya yang kita kenal adalah bahasa. Bahasa yang digunakan suatu bangsa menunjukkan cara dan struktur berpikir, pandangan, ekspresi, bahkan identitas. Misalnya, bangsa pengguna bahasa yang disimbolkan dalam bentuk deretan huruf latin dan gambar (piktograf). Secara awam, kita akan menilai bahwa bahasa yang disimbolkan dalam deretan gambar piktograf menunjukkan kesederhanaan berpikir juga ketajaman ingatan, karena satu gambar mewakili satu ide atau bahkan satu peristiwa. Mungkin belum banyak ide yang diwakili oleh penggalan gambar tersebut karena sebagian masih mengandalkan memori manusianya untuk menyimpan peristiwa yang dilukiskan. Ini menandakan betapa kuat ingatan manusianya.

Diantara symbol-simbol bahasa yang mewakili peristiwa yang dilukiskan, adalah hieroglyph (tulisan Mesir kuno) dengan satu gambar mewakili satu penggalan peristiwa, kemudian berkembang menjadi lebih sederhana yaitu piktograf (huruf kanji Cina, yang kemudian banyak diadopsi dalam huruf kanji Jepang), dengan satu gambar (symbol) mewakili satu kata, kemudian kita mengenal bentuk yang lebih sederhana, satu symbol mewakili satu suku kata seperti yang tanpak dalam huruf hiragana (Jepang) dan katakana (Jepang). Kemudian kita mengenal satu symbol mewakili satu huruf, yang nantinya harus dirangkai dengan huruf lain untuk membentuk satu bunyi atau makna. Bentuk yang ini lazim tampak dalam bahasa-bahasa yang menggunakan huruf-huruf latin (alfabetikal a – z termasuk dengan aneka “variasi”-nya), huruf-huruf simbolik berbasis huruf (non alfabetikal latin) termasuk huruf-huruf Arab dan Rusia.

Salah satu huruf dan bahasa yang menarik perhatian saya adalah huruf dan bahasa Jepang. Saya bukan ahli bahasa atau sastra Jepang atau budaya Jepang, namun hanya tertarik ketika orang Jepang memiliki huruf silabus (berbasis suku kata) yakni hiragana (untuk menuliskan kata-kata dari unsur Jepang) dan katakana (untuk menuliskan kata-kata yang berasal dari unsur asing) kemudian “mengimpor” huruf kanji China yang berbasis kata dengan beberapa modifikasi bentuk dan bunyi sehingga kanji Jepang walaupun tampak sama, namun memiliki arti (bahkan bunyi) yang berbeda dari kanji China. Bagi saya ini cukup untuk memahami bahwa bangsa Jepang adalah bangsa yang belajar (learning nation), selalu melihat kekurangan diri dan menambah kekurangan dirinya dengan belajar dari bangsa lain yang kemudian menjadi milik sendiri.

Pola komunikasi orang Jepang juga unik. Dalam berkomunikasi personal antar sesamanya, orang Jepang menganggap bahwa lawan bicara yang diam (walaupun memperhatikan ucapan lawan bicaranya) adalah sebagai lawan bicara yang tidak sopan. Mereka lebih suka menimpali pembicaraan ;awan bicara dengan beberapa ungkapan sederhana atau ucapan kecil semacam “oh ya”, “betul tu”, “ah”, “hm”, “ya”, “lantas”, dsb. Ungkapan-ungkapan kecil ini muncul di sela-sela ucapan yang dilakukan oleh lawan bicara (yang sedang berbicara), namun dilakukan dengan tidak membuat lawan bicara terganggu ucapannya. Jadi harus pandai-pandai melihat celah. Orang pertama (pembicara) akan berbicara, kemudian orang kedua (yang menjadi lawan bicara) menimpali dengan ucapan-ucapan pendek seperti tadi di sela-sela ucapan orang pertama. Terdengar bergantian dan saling mengisi, yang menurut orang Jepang tampak seperti pandai besi yang sedang bekerja. Pandai besi bekerja dalam tim kecil (biasanya berisi 2 orang) yang menempa besi/ baja secara bergantian sehingga terdengar irama yang indah walaupun bekerja berat. Pola bicara “bergantian seperti pandai besi yang sedang bekerja” inilah yang lazim disebut “aizuchi”. Cara berbicara seperti ini akan terlihat dan terdengar indah, hidup dan terkesan saling memperhatikan. Saya melihat ada semangat saling memperhatikan, saling menghargai dan kerjasama “hanya” dalam cara berbicara ! Jika “hanya” urusan ngomong aja orang Jepang ini sudah menampakkan “etos kerja” produktif, apalagi ketika mereka bekerja !

Sedikit menambahi tentang penghargaan kepada lawan bicara ketika orang Jepang (modern) berbicara, adalah tampak ketika 2 orang yang saling bertemu, berkenalan dan berbicara. Orang Jepang memiliki kebiasaan bertukar kartu nama (ketika pertama kali bertemu atau kenal) sambil berkenalan nama. Ketika menerima kartu nama orang lain, kita pasti akan segera menyimpan dalam saku atau dompet kalau kita menganggapnya cukup berharga, kemudian melanjutkan bercakap-cakap. Orang Jepang tidak demikian. Mereka akan menerima kartu nama pemberian lawan bicara dengan dua tangan (tentunya dengan sedikit membungkuk, gaya Jepang), memandangnya dengan pandangan takjub seolah menerima benda keramat, tetap memegangnya selama bercakap-cakap dengan sesekali melirik ke arah kartu nama tersebut ! Jika kartu nama tersebut adalah kartu nama anda, bagaimana perasaan anda? Antar sikap model pertama (diterima, langsung disimpan) atau model kedua (model Jepang)? Perlakuan terhadap kartu nama  anda yang model mana yang mambuat anda lebih merasa terhormat dan dihargai? Itulah orang Jepang !

Nah, kembali pada urusan bicara tadi ya…. Lawan bicara yang diam akan dianggap sebagai lawan bicara yang tidak mengerti isi pembicaraan, tidak mengikuti pembicaraan dan tidak peduli pada isi pembicaraan. Dengan demikian, ia akan dianggap sebagai teman bicara yang tidak sopan dan tidak menghargai orang… atau… sebagai orang dungu karena tidak mengerti apa-apa.. seperti kerbau. Nah.. kerbau lagi…🙂 Jadi ingat… hehe…🙂 Saya menduga, mungkin orang Jepang (bahkan mungkin juga kita ya..) akan menganggap, jika lawan bicara diam aja, apa bedanya dengan berbicara dengan orang tuli, orang gagu atau berbicara dengan kerbau atau berbicara dengan patung!

Jika kita melihat ada kebaikan tersirat dalam pola komunikasi orang Jepang, gak papa kok jika kita mencontohnya… hehe…🙂

Ya memang sih, Negara Jepang termasuk negara industri, dengan teknologi maju, dengan banyak sekali inovasi tiada henti sehingga membuat Jepang senantiasa lebih unggul dan semakin berada di depan… lha kok kayak iklan sepeda motor yak.. haha…. Motor Jepang.. nah.. iya akan…. Bikinan Jepang… kalu gini ni saya ingat sekelimunit sejarah kebangkitan Jepang pasca bom bunuh diri eh… bom atom yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki (Perang Dunia II, lihat gambar di bawah: Hiroshima pasca bom atom). Tahun 1945 Jepang luluh lantak… eh… pada tahun 1980 Amerika Serikat telah kebanjiran produk Jepang! Sehingga ada karikatur yang menggambarkan Presiden Ronald Reagan berpidato, di sekeliling podiumnya terdapat benda-beda bermerk Sony, Nikkon bertebaran. Buru-buru Amerika kelabakan !

Jepang hebat? Saya masih belum bercerita tentang kehebatan seorang geisha bernama Naoko Nemoto yang sangat berposisi penting dan berjasa bagi diplomasi Indonesia di era Soekarno. Yang kemudian dinikah oleh sang Presiden. Anda kenal? Kenal di mana hayo…. Haha…. Okelah… jika anda pernah mengenal nama Dewi Soekarno, dialah orangnya! Yang kemudian dunia internasional terutama kalangan jet set mengenalnya sebagai Madamme Soekarno.. dan sekitar 1990-an Indonesia heboh dengan kemunculan sebutan Madamme de Syuga !

OK.. lain kali aja ya ceritanya… kita lanjutin cerita bahasa Jepang aja lah… Supaya kita “ketularan” semangat bushido orang Jepang yang kuat dan ulet. Walaupun digambarkan oleh Koentjaraningrat (Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan) sebagai bangsa yang bermental membangun yang sangat kuat sehingga Indonesia tidak mungkin bisa menirunya jika diadopsi untuk urusan pembangunan, namun boleh donk terinspirasi darinya… dikit aja…

Nah, tentang bahasa tadi ya…. Saya memilih untuk tertarik dengan bahasa Jepang antara lain karena ilustrasi di atas.. hehe…🙂

Saya pun menggunakan cara-cara “nakal” untuk membuat bahasa Jepang terasa mudah dipelajari, termasuk ketika saya mengajari anak saya yang berminat (cuma ada 1 anak saya yang berminat mempelajari bahasa-bahasa dunia termasuk bahasa Jepang, disamping bahasa Rusia dan Spanyol. Inggris tentu saja, selain bahasa Indonesia. Anak saya satunya, terpaksa belajar bahasa Arab karena tuntutan kurikulum sekolahnya.. haha..).

Tentu saja, ini bukan sebangsa takashimura (jual obral),  naiko kuda (gerak cepat), naiko yamaha (gerak lebih cepat), takashitai (tidak sopan), raimu takashitai (sangat tidak sopan), dsb.. hehe…. Awas.. orang Jepang bisa marah kalau bahasanya –yang ia junjung tinggi sehingga ia enggan belajar bahasa Inggris itu— dipleset-plesetin gitu… Yak, orang Jepang terpaksa berbahasa Inggris itupun bahasa Inggris logat Jepang yang menurut mereka sangat dapat dibanggakan! Saya pun sempat bingung ketika menyimak omongan orang Jepang yang ngomong ‘preng’ yang maksudnya ‘plan’…. Yak.. orang Jepang susah ngomong “l” (dilafaz “r”) dan huruf “n” di akhir kata dibaca “ng”. Alhasil, “plan” pun diucap “preng”… Cukup kacau kan… hehe… Tapi si Jepang yang ngomong gitu tetep PD aja, tetep ngomong dengan mimik serius  dan “gak ngerasa berdosa”…. Haha….🙂

Lebih kacau lagi jika orang Jepang ngomongin pemilu di negaranya. “In my country when generar erection herd, people tark about poritic everywhere…” Maksudnya, in my country when general election held, people talk about politic everywhere…”

Sepintas, kita akan mendengarnya sebagai “when general erection heard….”… Mantap… haha…🙂

Waduh… ngelantur ke mana-mana… haha…. Cuma foot note kan….

Kadang saya ngajari anak-anak untuk membuat asosiasi ke memori objek lain yang lebih familiar ketika belajar bahasa Jepang. Misalnya, kata hajimaru (dengan berbagai variannya: hajimete, hajimemashite, hajimemasho) yang berarti “permulaan”. Ya… haji (makna budaya kita: wak haji) dikaitkan dengan makna permulaan (pergi haji wajibnya cuma sekali, jadi “permulaan”). Tentu saja gak perlu  diplesetin “hajimoto” (wak haji lagi piknik, sambil memotret).. hehe…🙂

Anata” (kamu, anda), mirip “anda”. Namae (beneran ni, artinya emang “nama”).

Beberapa kalimat yang kita perlu berhati-hati jika gak pengen celaka gara-gara salah ucap, abis, mirip sih.. mungkin kayak orang asing yang masih sulit membedakan “kelapa” dan “kepala”. Kalau penggunaannya terbalik, bisa kacau ni… Misalnya, “saya ingin anda memecahkan kepala saya” yang maksudnya orang tersebut minta tolong untuk membelah buah kelapa.

Di restoran, jika anda suka fast food pakai udang, anda bisa memesan dengan mengatakan “ebiten udon kudasai”. Udon, adalah sebuah fast food ala Jepang, biasanya disajikan dengan tempura, ikan dan sayuran. Meleset dikit anda akan membuat bingung pelayan atau diketawain orang, jika saja anda kurang teliti dengan kata “ebi”, misalnya meleset jadi “hebiten udon kudasai” (tolong sediakan udon dengan daging ular. Ebi = udang; hebi = ular. Beda dikit ya….🙂 ). Jika mereka tahu anda dari Indonesia, wah.. bisa malu-maluin bangsa kita donk.. dikiranya orang Indonesia pemakan ular… hii….

Tapi itu masih bisa dimaklumi, ketimbang harus pesen makanan dengan ngomong “koyubi-no-karaage kudasai”. Maksudnya mau pesen french fries, tapi si pelayan akan takut setengah mati karena ia mengira anda pemakan jari tangan karena “koyubi-no-karaage” artinya (“French-fried finger”). Harusnya dikatakan, “koebi-no-karaage kudasai” (small French-fried shrimps, please; ko-ebi= udang kecil goreng). Ebi =udang. Ko (kecil), ko-ebi artinya ‘udang kecil”. Ingat ebi yang ketuker ama hebi (ular) tadi.. haha… awas… Buas sekali yak… habis makan ular, makan jari orang! Yakuza ama Ninja aja bisa takut tu…. Haha…🙂

Itu belum bahaya ketimbang jika keliru ucap yang berakibat bisa tewas.. lho…. (bercanda, gak mungkin lah… hehe. Tapi sapa tahu lawan bicara menganggap anda serius: anda dikira pengen mati tapi ogah bunuh diri. Kan di Jepang biasa tu bunuh diri.. hehe…🙂 ). Jika anda naik taksi dan minta diturunkan di sebuah jalan (di Jepang lebih familiar dengan blok, bukan jalan), anda bisa mengatakan “kokode oroshite kudasai” (tolong turunkan saya di sini). Beda dikit, anda bisa mati… hehe… jika saja anda keliru ucap “kokode koroshite kudasai” (tolong bunuh saya di sini)… haha…🙂.

Nah…. daripada mati konyol gara-gara salah omong, mending “mati belajar ala Jepang” bareng saya.. haha…🙂

Tunggu lagi Nihongo No Konyol dari saya pada edisi mendatang ya….🙂

Tapal Batas Tetangga


Dari dulu, tapal batas selalu menjadi masalah sensitif. Mulai persoalan batas pekarangan dengan tetangga, batas desa hingga batas negara. Dan tak jarang pula terjadi pertengkaran dan perkelahian jika berurusan dengan persoalan ini. Ketidak jelasan batas, klaim masing-masing pihak atas wilayah yang dipersengketakan atas dasar transaksi di masa lalu, perjanjian dengan pihak lain, sejarah hingga keyakinan (misal, kasus “tanah kemerdekaan” atau “tanah yang dijanjikan” yang hingga kini menjadi dasar sengketa Israel – Palestina). Jika bukti-bukti yang dirujuk masing-masing pihak yang bersengketa, masih juga memunculkan peluang “keraguan baru”, dan mediasi yang ditempuh juga belum memuaskan, orang desa yang bersengketa tak jarang lalu angkat senjata: clurit berbicara, yang sebelumnya tentu saja ada adegan adu mulut.

Dalam konteks batas negara, dalam kasus wilayah yang nyelonong masuk peta wilayah negara tetangga (Malaysia), sejarah diplomasi negara kita sarat dengan kekalahan diplomasi dari utusan negara kita. Lantas para pemerhati politik pendidikan lantas berteori, bahwasanya diplomat kita kurang terlatih sejak dari bangku SD. Mereka tak pernah diajari terampil berbahasa semisal pantun berbalas seperti tradisi wangsa Melayu. Mereka yang belajar di bangku-bangku sekolah di Indonesia hanya disibukkan dengan menghapal teori bahasa yang nanti akan diuji dengan pola pilihan ganda: benar semua, dapat nilai maksimal, lulus, selesai. Alhasil (konon), ketika para pembelajar tersebut jadi mahasiswa, juga terbiasa berpola: “hapal, lulus, nilai, selesai”. Jika mereka ini menjadi diplomat, akan berpeluang besar  untuk kalah omong dengan para mak cik dari negeri jiran seberang kerana mereka ni suke dan terbiase pantun berbalas sejak kecil…🙂

Kemudian, para pemerhati politik dan kebijakan akan berteori, bahwa pemimpin negeri yang selalu kalah diplomasi ini kurang tegas dalam membela teritorial rumah tangganya. Mungkin terlalu sibuk dengan urusan domestik, anak-anaknya yang selalu berengkar (juga berebut wilayah dan tahta yang tak jelas), sementara anak-anka rantaunya asyik dengan urusannhya sendiri karena biasanya “anak rantau” adalah “anak yang terbuang” (makanya kalau mau jadi diplomat, jadilah “anak badung”, biar dibuang menjadi diplomat.. hehe..🙂 ).

Kini, rumah tangga Endonesia (kerana kite susah ngomong “Indonesia”) menghadapi problem “batas pekarangan” lagi dengan tetangga langganannya. Kalau dulu kepulauan Sipadan dan Ligitan serta  blok Ambalat, kini dusun Camar Bulan (Kalbar) yang masuk peta Malaysia.

Belajar dari sejarah: mengapa kit akalah diplomasi pada kasus Sipadan, Ligitan dan Ambalat? Kalah omong? (kalah diplomasi)? Tak paham atau tak menguasai pekarangan sendiri? Hingga ketika patok bergeser (digeser tetangga?), kita gak tahu? Kayaknya kita butuh ilmu dari Pak Kades kalau begini…. Dan Pak Kades yang jagoan ngotot. Saya mengusulkan saudara saya, Dul Kadir untuk menjadi utusan bernegosiasi dengan tetangga sebelah. Pasti beres!🙂

Ini beritanya, yang saya kutip dari Pontianak Pos Online:

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat Cornelis mengaku terkejut terhadap informasi masuknya Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, seluas 1.499 hektare ke dalam wilayah administratif Pemerintah Diraja Malaysia.Ia pun lantas menegaskan jika wilayah tersebut masuk wilayah Indonesia yang sah berdasarkan Traktat London tahun 1824. “Sebagai seorang gubernur, tak sejengkal tanah pun akan saya serahkan kepada Pemerintah Malaysia. Tanah itu akan tetap saya pertahankan,” tegas Cornelis di Pontianak, Kamis (29/9).Menurutnya, Traktat London adalah kesepakatan bersama antara Kerajaan Inggris dan Belanda terkait pembagian wilayah administrasi tanah jajahan kedua negara. Salah satu isi perjanjian itu adalah batas negara antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan didasarkan pada watershead. Artinya, pemisahan aliran sungai atau gunung, deretan gunung, batas alam dalam bentuk punggung pegunungan sebagai tanda pemisah.

“Kita sudah tahu bahwa karakter Dusun Camar Bulan itu datar. Tidak ada gunung atau pegunungan Juga tidak ada sungai di sana. Sehingga sangat tidak memenuhi syarat sebagai watershead. Lalu kenapa wilayah itu harus masuk ke peta Malaysia,” tegas Cornelis.Atas dasar itu pula, dia telah memerintahkan Bupati Sambas, Juliarti Djuhardi Alwi untuk memasang pagar kawat berduri di sepanjang wilayah perbatasan. Pemerintah Kalbar juga telah mengimbau warga Camar Bulan yang berjumlah 170 keluarga atau sekitar 700 jiwa, untuk beraktivitas di kawasan sengketa, termasuk menanam pohon dan berkebun.Selain itu, Cornelis meminta hasil pertemuan antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia di Kinabalu pada 1976 dan hasil pertemuan kedua negara di Semarang, Jawa Tengah tahun 1978 yang menyebut Camar Bulan masuk wilayah Malaysia segera dibatalkan karena bertentangan dengan Traktat London, Peta Belanda, dan Peta Inggris.

“Saya juga mendapat informasi bahwa Badan Survei dan Pemetaan Nasional sudah membuat peta yang memasukkan Camar Bulan ke dalam wilayah Malaysia supaya tidak ditandatangani karena sangat merugikan Indonesia, khususnya wilayah administrasi Kalbar. Saya juga akan mengajukan protes ke pemerintah pusat terhadap permasalahan Camar Bulan,” pinta Cornelis.Sebaiknya, kata Cornelis, pengukuran itu ditinjau kembali dengan nafas yang sama, yakni Traktat London. “Kita bisa lihat patok batas 104 buatan Belanda. Semua materialnya sudah diuji laboratorium dan persis sama dengan material patok batas yang ada di Tanjung Datuk, Sambas. Bandingkan dengan patok batas 104 yang baru dibuat dan ditancap jauh sampai 1.499 hektare ke dalam wilayah kekuasaan NKRI,” pungkasnya. Selain itu, Cornelis juga meminta seluruh seluruh bupati di kawasan perbatasan untuk mengecek ulang patok batas yang ada.

”Lima bupati perbatasan cek ulang. Lihat patok batas, jangan hanya tunggu di kantor. Hasil itu akan saya sampaikan kepada pemerintah pusat, agar diadakan perundingan kembali antara Pemerintah Indonesia dengan Malaysia,” ungkap Cornelis seusai membuka Rapat Koordinasi Pengelola Keuangan Kabupaten/Kota se Kalbar, Kamis (29/9) di Orchardz Hotel Pontianak.”Sampai hari ini, tanda di peta tidak ada (masuk ke Malaysia. Secara internasional itu masuk ke Indonesia. Tetapi kok pengukuran pada 1975-1978 masuk ke sini (Malaysia),” jelas Cornelis sambil menunjukkan selembar kertas berisi peta.Cornelis menegaskan dirinya akan mengajukan keberatan kepada Pemerintah Indonesia atas bergesernya patok batas.”Kami minta melakukan perundingan kembali apakah melalui Kementerian Pertahanan Keamanan atau yang lainnya. Setelah tinjau lokasi saya langsung menyampaikan secara resmi kepada pemerintah pusat,” ujar Cornelis. Ia juga meminta pemerintah daerah di perbatasan untuk memperhatikan warganya dengan memberikan kartu keluarga, kartu tanda penduduk, dan akta kelahiran gratis. ”Agar mereka tetap menjadi warga Negara Indonesia. Anda boleh pindah jadi warga negara Malaysia, tetapi buminya (tanahnya) tidak boleh digeser,” katanya. (mnk/uni)

Sumber: Pontianak Pos Online

Jum’at, 30 September 2011 , 08:00:00

source pic: http://www.kalbariana.net/camar-bulan-dicaplok

Klaim Malaysia atas Camar Bulan Berdasar MoU Sementara

Kamis, 06 Oktober 2011 20:46 WIB

JAKARTA–MICOM: Dasar klaim Malaysia atas wilayah Camar Bulan adalah MoU pada 1975 di Kinabalu (Malaysia) dan 1978 di Semarang (Indonesia) antara Malaysia dan Indonesia tentang hasil pengukuran bersama tanah tersebut.

Namun, MoU tersebut sifatnya sementara atau tidak tuntas atau bisa ditinjau lagi (modus vivendi). Itu berdasarkan dokumen rahasia tentang perbatasan Republik Indonesia – Malaysia perihal potensi hilangnya kedaulatan Republik Indonesia (RI). Demikian diungkap anggota Komisi I Fraksi PDIP TB Hasanuddin dan diberikan kepada Media Indonesia, Kamis (6/10), di Jakarta.

Padahal, berdasarkan fakta dan juga dokumen peta, MOU yang sifatnya sementara tersebut tidak sesuai dengan Peta Negara Malaysia dan peta Federated Malay State Survey tahun 1935, sehingga Indonesia dirugikan seluas 1.449 ha. Klaim wilayah Malaysia tersebut juga bertentangan dengan Pemetaan Kapal Pemetaan Belanda van Doorn tahun 1905 dan 1906 serta peta Sambas Borneo (N120-E10908/40 Greenwid).

Namun aneh, kata Hasanuddin, pemerintah Malaysia rupanya buru-buru memasukkan Outstanding Boundary Problems (OBP) Camar Bulan ke dalam Peta Kampung Serabang, Serawak, Malaysia.

Peta tersebut merupakan upaya memperkuat klaim terhadap wilayah tersebut. Padahal, dalam dokumen tersebut disebutkan, di daerah camar Bulan masih ada patok lama peninggalan Belanda yakni patok dengan kode A104. Patok ini pun mulai diupayakan untuk dilenyapkan oleh Malaysia.

http://www.mediaindonesia.com/read/2…-MoU-Sementara

Konflik Camar Bulan Memanas, Batas Malaysia Dijaga Pasukan Rela

Sabtu, 1 Oktober 2011

Berlarut-larut diselesaikan, sama saja membuat wilayah NKRI digerogoti. Semua pihak diminta berkaca pada kasus Sipadan-Ligitan. Nasib Camar Bulan sangat ditentukan Pusat. Ayo rebut!

SAMBAS – Tapal batas Indonesia-Malaysia di Camar Bulan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas belum terselesaikan. Indonesia kehilangan 1.499 hektare lahan yang masuk ke kawasan Malaysia. Pemerintah Pusat didesak bertindak agar NKRI tak dicaplok. “Masalah itu akibat MoU Indonesia dan Malaysia tahun 1978 di Semarang yang justru merugikan Indonesia. Kita meminta pemerintah pusat bertanggung jawab dan segera bertindak,” kata H Subhan Nur, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalbar bidang pemberdayaan ekonomi perbatasan kepada Equator, Kamis (29/9).

Kawasan Camar Bulan tepatnya di patok batas A 88 sampai patok A 156 bergeser dan masuk ke Malaysia. Hingga sekarang Malaysia masih mempertahankan lahan seluas 1.499 hektare itu karena merasa dikuatkan oleh MoU 1978. “Padahal ratifikasi perjanjian internasional masih belum dilaksanakan. Ini yang harus diperjuangkan dikarenakan kelalaian pemerintah,” ujar Subhan yang juga mantan Ketua KNPI Kabupaten Sambas ini.

Menurut dia, dari hasil tinjauan di lapangan dan komunikasi langsung dengan pihak Malaysia, mereka lebih dominan mempertahankan kawasan perbatasan antara negara. Hal ini dibuktikan dengan dilibatkannya masyarakat Sempadan atau perbatasan menjadi pasukan Rela yang bertugas menjaga kawasan perbatasan. “Sekarang ini mulai dari Sematan hingga Bau, jumlah pasukan Rela kurang lebih 3.000 orang,” jelas Subhan.

Jika Malaysia bisa melibatkan masyarakat perbatasan untuk memperkuat wilayah pertahanan, mengapa Indonesia tidak. Kemungkinan lebih efektif melibatkan masyarakat tempatan daripada mendatangkan petugas yang berjaga di wilayah perbatasan. “Tentunya dengan banyaknya petugas maka akan banyak memakan biaya. Tetapi kalau masyarakat sangat efektif dan efisien. Upaya ini sekaligus menumbuhkan rasa nasionalisme dalam mempertahankan NKRI,” tegas dia.

Dijelaskannya, banyak cara yang dapat dilakukan pemerintah, salah satunya menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat agar berkebun di wilayah perbatasan. Kuncinya asalkan petugas dan pemerintah dapat memfasilitasi mereka. Subhan mengajak berkaca pada kasus lepasnya Sipadan-Ligitian dari Bumi Pertiwi. “Kemenangan Malaysia terhadap daerah itu karena mereka sudah siap dan sudah menggarapnya, karena mengetahui potensi daerah itu. Mengapa ini tidak kita lakukan, padahal kita juga tahu potensinya,” papar dia.

Hal seperti ini, menurut Subhan, kelemahan Indonesia. Wajar jika mempertanyakan visi pemerintah daerah, provinsi dan pusat tentang keberpihakan kepada masyarakat perbatasan. Subhan menyarankan, agar jalur jalan strategis yang telah ditetapkan pusat dapat mengambil garis lurus. “Potong saja jalan strategis nasional sampai Dusun Temajuk. Kemudian melakukan percepatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat perbatasan,” kata dia.

Jika ini tidak segera dilakukan, kata Subhan, dikhawatirkan rasa nasionalisme masyarakat perbatasan akan luntur. Ditambah lagi adanya operasi cipta lestari yang dilakukan aparat hukum dalam menertibkan kayu. Sebelumnya, Gubernur Kalbar, Drs Cornelis MH berang dan memerintahkan Bupati Sambas, Juliarti Djuhardi Alwi memasang kawat berduri di sepanjang wilayah perbatasan.

Menurut Gubernur, Camar Bulan adalah wilayah Indonesia yang sah berdasarkan Traktat London tahun 1824. “Sebagai seorang gubernur, tak sejengkal tanah pun akan saya serahkan kepada Pemerintah Malaysia. Tanah itu akan tetap saya pertahankan,” tegas Cornelis, Kamis (29/9) di Pontianak. Menurutnya, Traktat London adalah kesepakatan bersama antara Kerajaan Inggris dan Belanda terkait pembagian wilayah administrasi tanah jajahan kedua negara.

Salah satu isi perjanjian itu adalah batas negara antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan didasarkan pada watershed. Artinya, pemisahan aliran sungai atau gunung, deretan gunung, batas alam dalam bentuk punggung pegunungan sebagai tanda pemisah. “Kita sudah tahu bahwa karakter Dusun Camar Bulan itu datar. Tidak ada gunung atau pegunungan juga tidak ada sungai di sana. Sehingga sangat tidak memenuhi syarat sebagai watershed. Lalu kenapa wilayah itu harus masuk ke peta Malaysia?” tegas Cornelis.

Pemerintah Kalbar juga telah mengimbau warga Camar Bulan yang berjumlah 170 keluarga atau sekitar 700 jiwa, untuk beraktivitas di kawasan sengketa, termasuk menanam pohon dan berkebun. Selain itu, Cornelis meminta hasil pertemuan antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia di Kinabalu pada 1976 dan hasil pertemuan kedua negara di Semarang, Jawa Tengah tahun 1978 yang menyebut Camar Bulan masuk wilayah Malaysia segera dibatalkan karena bertentangan dengan Traktat London, Peta Belanda, dan Peta Inggris. “Saya juga mendapat informasi bahwa Badan Survei dan Pemetaan Nasional sudah membuat peta yang memasukkan Camar Bulan ke dalam wilayah Malaysia supaya tidak ditandatangani karena sangat merugikan Indonesia, khususnya wilayah administrasi Kalbar. Saya juga akan mengajukan protes ke pemerintah pusat terhadap permasalahan Camar Bulan,” tegasnya.

Sebaiknya kata Cornelis, pengukuran itu ditinjau kembali dengan napas yang sama, yakni Traktat London. “Kita bisa lihat patok batas 104 buatan Belanda. Semua materialnya sudah diuji laboratorium dan persis sama dengan material patok batas yang ada di Tanjung Datuk, Sambas. Bandingkan dengan patok batas 104 yang baru dibuat dan ditancap jauh sampai 1.499 hektare ke dalam wilayah kekuasaan NKRI,” tukasnya.

http://www.equator-news.com/utama/20…-bulan-memanas

Untuk rekan pembelajar Geopolitik, boleh juga kasus di atas dijadikan bahan bekajar dan diskusi. Bisa juga simak link ini:

Geopolitik 1

Geopolitik 2

%d blogger menyukai ini: