Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa – Bagian II (Habis)


Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa

Bagian II (Habis)

Wawan E. Kuswandoro

http://www.eKuswandoro.co.cc

Tulisan ini membantu penyampaian materi kuliah “Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa”, mendeskripsikan cara pandang dan bagaimana sosiologi memberikan pemahaman dan analisis tentang masyarakat kota dan desa, kehidupan sosialnya, hubungan kota dan desa dan kaitannya dengan pembangunan, gejala dan masalah-masalah kota dan desa termasuk urbanisasi dan urban bias. Pokok-pokok perkembangan kota dan pembangunan desa dimasukkan dalam lingkup bahasan yang sesuai dengan kebutuhan penelaahan studi-studi politik dan administrasi. Untuk mempermudah penyampaian, artikel ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian I berisi materi Mengenal Sosiologi Untuk Analisis Masyarakat (I), Konsepsi Tentang Masyarakat (II) dan Mengenal Paradigma Ilmu Sosial (III). Bagian II berisi materi Masyarakat Kota (I), Masyarakat Desa (II), Masalah-Masalah Masyarakat Kota dan Desa (III).

1.     Pada Bagian II ini mari kita aplikasikan pemahaman teoretis kita yang telah dicapai pada Bagian I, untuk memahami dan menganalisis masyarakat kota dan desa beserta masalahnya. Tapi, dah pada paham belum, materi Bagian I? Kalau lupa, boleh kok buka n baca lagi… Sebagai pengantar ke pembahasan sosiologi masyarakat kota dan desa, setelah kita memahami pengertian dan lingkup kajian sosiologi sebagai dasar, saya ajak saudara untuk memahami pengertian community, yang berasal dari aplikasi metode ekologi sosial. Ekologi sosial, sebagai studi tentang relasi sub-sosial antar manusia. Yang disebut sebagai sub-sosial masyarakat adalah keseluruhan relasi yang non-personal antar manusia, yang muncul dari rasa nasib sosial yang sama yang tak dapat dijelaskan dari interaksi manusia yang disadari. Sama-sama mendiami gedung rumah susun misalnya, orang masuk  tata non-personal, dan ini diatur oleh mekanisme persaingan yang merupakan proses dalam kehidupan, yang karena proses ini anggota masyarakat ybs mendapatkan tempat dan posisinya yang kemudian memunculkan kesatuan fungsional dan keruangan yang tak disadari oleh ybs. Ekologi sosial sebagai studi tentang daerah-daerah sosial budaya (culture areas). Ia berfungsi menggambarkan sebaran keruangan dari gejala sosial sehingga metode ini mengarahkan pada pengarahan dan pemetaan persebaran keruangan dari gejala-gejala sosial tertentu. Ekologi sosial memandang bahwa relasi antar manusia dan lingkungannya mengandung 2 aspek yang terpisah:

a.    Relasi manusia sebagai individu dengan lingkungannya.

b.   Relasi manusia sebagai kelompok dengan lingkungannya.

2.     McKenzie menjelaskan bahwa ekologi sosial mengkaji hubungan-hubungan sosial yang terdapat dalam waktu dan ruang, yang terjadi karena berbagai kekuatan yang terdapat di dalam lingkungan. Ekologi sosial merupakan bagian dari sosiologi yang mengutamakan struktur dan fungsi masyarakat manusia di dalam lingkungannya. Dan masyarakat manusia dalam ekologi sosial disebut community, yaitu kehidupan bersama yang berdasarkan teritorial. Ini dapat berupa kota, desa, metropol, benua, bahkan dunia (du monde entier).

3. Community (komunitas) dalam pengertian umum, sering diartikan secara sosial ataupun geografis, namun secara sosiologis memiliki makna dari sisi manusia-nya, bukan kelompok perumahan, gedung-gedung maupun sebagai tempat. Kehidupan masyarakat tergantung dari jenis community di mana ia berada. Masyarakat kota maupun masyarakat desa sebagai community, adalah suatu kelompok teritorial di mana penduduknya menyelenggarakan kegiatan-kegiatan hidup sepenuhnya.

Suatu community memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a.    Berisi kelompok manusia.

b.   Menempati suatu wilayah geografis.

c.    Mengenal pembagian kerja ke dalam spesialisasi yang saling tergantung (nah tu.. ingat gak sama mbah Durakhim eh Durkheim kemarin lalu tu…).

d.   Memiliki kebudayaan dan sistem sosial bersama yang mengatur kegiatan mereka.

e.    Para anggotanya sadar akan kesatuan serta kewargaan mereka dari community.

f.     Mampu berbuat secara kolektif menurut cara tertentu.

4.     Community dalam ekologi sosial dipandang sebagai struktur yang memiliki unsur-unsur: populasi (banyaknya manusia), habitat (lingkungan) dan kebutuhan (segala hal yang dikejar melalui kegiatan hidup). Interaksi antara ke-3 unsur tersebut mendorong berfungsinya struktur dalam arti perkampungan, kota, desa, daerah dan negeri. Dalam sosiologi, community mirip dengan tata kehidupan bersama pada tumbuh-tumbuhan dan hewan, yang di dalamnya terdapat bagian yang terikat oleh kesalingtergantungan dan kesalingbersaingan sehingga perjuangannya untuk kelangsungan hidup di suatu lingkungan tertentu memunculkan spesialisasi tertentu serta pembagian kegiatan. Akibatnya, community memiliki pola keruangan yang khusus di mana populasi dan kegiatannya tersebar menurut cara tertentu dan teritorium ybs.

5.     Sosiologi membagi community atas jenis rural (jika anggota masyarakatnya berjumlah relatif sedikit dan bermata pencarian agraris) dan jenis urban (jika jumlah warganya relatif banyak dan mata pencarian utama perdagangan dan industri). Sebenarnya klasifikasi seperti ini tak memuaskan karena terdapat pula ‘desa perdagangan’ dan ‘kota pertambangan’. Karena itu ada klasifikasi lain yaitu: rural, fringe (pinggiran), town, dan metropolis. Mari kita kembangkan lagi menurut pengamatan kita…

Masyarakat Kota

6.     Ciri-ciri atau kondisi yang diperlukan bagi suatu kota (city): (1) adanya pembagian kerja dalam spesialisasi yang jelas; (2) organisasi sosial lebih berdasarkan pekerjaan dan kelas sosial daripada kekeluargaan; (3) lembaga pemerintahan lebih berdasarkan teritorium daripada kekeluargaan; (4) adanya sistem perdagangan dan pertukangan; (5) mempunyai sarana komunikasi dan dokumentasi; (6) berteknologi yang rasional. Makin besar kota, makin tegas ciri-ciri tersebut.

7.     Masyarakat kota merupakan produk dari kekuatan sosial yang bersifat kompleks. Faktor-faktor yang mendorong perkembangan masyarakat kota:

a.    Pertambahan penduduk kota yang senantiasa mempertinggi kontak sosial.

b.   Indutrialisasi yang menarik banyak tenaga kerja dari daerah pertanian.

c.    Transportasi dan komunikasi yang mendorong kekompakan kehidupan masyarakat kota.

d.   Kesempatan untuk maju dan berhasil lebih banyak tersedia di kota dibandingkan dengan di desa.

e.    Kota menawarkan fasilitas kesehatan dan pendidikan yang cukup sebagai sarana kenaikan jenjang sosial.

f.     Pengisian waktu senggang cukup tersedia, termasuk berbagai hiburan dan olahraga.

8.                         Ciri-ciri/ karakteristik masyarakat KOTA:

a.    Heterogenitas sosial. Kota merupakan “tempat peleburan” (melting pot) bagi aneka ras/ suku/ golongan manusia.

b.   Hubungan sekunder, pengenalam dengan orang lain sebatas pada bidang tertentu.

c.    Kontrol (pengawasan sekunder), orang tak begitu memperhatikan sesamanya, yang penting tidak mengganggu.

d.   Toleransi sosial, orang kota secara fisik berdekatan, tetapi secara sosial berjauhan.

e.    Mobilitas sosial, perubahan status sosial.

f.     Ikatan sukarela, cenderung suka beegabung dengan aneka organisasi/ asosiasi.

g.    Individualisasi.

h.   Segregasi keruangan, akibat dari kompetisi terjadilah pola sosial yang berdasarkan persebaran tempat tinggal sekaligus kegiatan sosial-ekonomis.

Masyarakat Desa

9.         Ciri-ciri/ karakteristik masyarakat DESA:

a.    Homogenitas sosial lebih tinggi. Masyarakat desa cenderung lebih homogen, baik pola hidup maupun tingkah laku dan kebudayaannya. Hal ini disebabkan oleh pola piker, pola sikap dan pola pandang yang sama dari setiap warganya.

b.   Hubungan primer. Pada masyarakat desa, hubungan kekeluargaan lebih menonjol, anggota masyarakat lebih mengenal antara yang satu dengan yang lain. Mereka lebih mengutamakan gotong royong.

c.    Kontrol sosial yang ketat. Anggota masyarakat saling mengetahui antara yang satu dengan yang lain, dengan hubungan yang ketat/ dekat.

d.   Gotong Royong tumbuh dengan baik. Semua masalah kehidupan dilakukan dengan gotong royong, baik gotong royong murni maupun gotong royong timbal balik.

e.    Ikatan sosial. Setiap anggota masyarakat diikat dengan nilai-nilai adat dan kebudayaan secra aketat. Anggota masyarakat yang tidak memenuhi norma dan kaidah yang disepakati, akan dihukum dan dikeluarkan dari ikatan sosial dengan cara mengcilkan / memencilkannya.

f.     Magis relijius tampak lebih kental dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan pada masyarakat Jawa, sering kita jumpai orang Jawa mengadakan “selamatan” untuk meminta rejeki, peruntungan, perlindungan, dsb.

g.    Pola kehidupan. Masyarakat desa umumnya bermata pencarian di bidang agraris (pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan). Pada umumnya setiap anggota masyarakat hanya mampu melaksanakan salah satu bidang kehidupan saja. Misalnya petani. Pertanian merupakan satu-satunya pekerjaan yang harus ditekuni. Jika pertaniantersebut kegiatannya kosong, maka ia menunggu sampai ada lagi kegiatan di bidang pertanian.

Perbedaan dan Masalah-Masalah Kota dan Desa

10.      Perbedaan masyarakat KOTA dan DESA. Mempelajari suatu masyarakat, berarti mempelajari struktur sosial. Karenanya, untuk menjelaskan perbedaan dari keduanya, dapat ditelusuri dalam hal lingkungan umumnya dan orientasi terhadap alam, pekerjaan, ukuran komunitas, kepadatan penduduk, homogentitas – heterogenitas, diferensiasi sosial, pelapisan sosial, mobilitas sosial, interaksi sosial, pengendalian sosial, pola kepemimpinan, ukuran kehidupan, solidaritas sosial dan nilai atau sistem nilai.

a.    Lingkungan Umum dan Orientasi terhadap Alam. Lokasi geografis desa mendekatkan masyarakat desa dengan alam dan bekerja menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Berneda dengan  masyarakat kota yang kehidupannya bebas dari lingkungan alam.

b.   Pekerjaan/ mata pencarian, bersinggungan dengan alam (agraris). Pada masyarakat kota, mata pencarian cenderung terspesialisasi, dan spesialisasi ini dapat dikembangkan secara hirarkhis/ organisasional.

c.    Ukuran komunitas. Komunitas pedesaan biasanya lebih kecil daripada komunitas perkotaan.

d.   Kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk di desa lebih rendah daripada di kota.

e.    Homogenitas dan heterogenitas. Homogenitas dalam cirri-ciri sosial dan juga psikologis, bahasa, adat, dan perilaku sering tampak pada masyarakat perdesaan. Pada masyarakat perkotaan, lebih heterogen.

f.     Diferensiasi sosial. Keadaan heterogenitas masyarakat kota berimplikasi pada diferensiasi sosial yang tajam, sesuai dengan kebutuhan masyarakat kota.

g.    Pelapisan sosial, mengikuti piramida sosial yaitu kelas-kelas tinggi berada pada posisi puncak piramida.

h.   Mobilitas sosial, berkaitan dengan perpindahan/ pergerakan suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya, termasuk mobilitas kerja dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Di kota lebih cepat daripada di desa. Misalnya mobilitas karena pindah rumah sewa/ kos, waktu bepergian orang kota lebih banyak daripada orahg desa, waktu luang di kota lebih sedikit daripada di desa.

i.     Interaksi sosial. Pada masyarakat desa yang jumlah penduduknya lebih sedikit dan mobilitasnya rendah, maka kontak pribadi antar individu lebih sedikit dibanding dengan masyarakat kota. Dalam kontak / interaksi sosial berbeda secara kuantitatif dan kualitatif. Pendiduk kota lebih sering kontak, tetapi cenderung formal, sepintas lalu, dan tidak bersifat pribadi (impersonal) tetapi melalui tugas atau kepentingan lain.

j.     Pengawasan sosial. Tekanan sosial di desa lebih kuat daripada di kota.

k.   Pola kepemimpinan. Menentukan kepemimpinan di desa cenderung banyak ditentukan oleh kualitas pribadi dari individu daripada di kota. Meliputi: kesalehan pribadi, kejujuran, pengorbanan, pengalaman, dsb. Jika ini berlanjut, maka kriteria keturunan pun ikut menentukan.

l.     Standar kehidupan. Berbagai faslitas yang menyenangkan banyak terdapat di kota, sehingga orientasi dan standar yang dipakai lebih kompleks di kota dibandingkan dengan di desa.

m.  Kesetiakawanan sosial (social solidarity). Pada masyarakat desa didorong oleh rasa kesamaan/ persamaan dalam hal pengalaman, dan tujuan hidup bersama, sedangkan pada masyarakat kota, kesetiakawanan / solidaritas didorong oleh ketidaksamaan/ perbedaan pembagian kerja, kesalingtergantungan dan spesialisasi.

n.   Nilai dan sistem nilai. Di kota dan di desa berbeda, dapat diamati dalam kebiasaan, cara, norma yang berlaku. Misalnya dalam mencari jodoh, peran kepala keluarga sangat besar. Tentang pendidikan, sistem nilai di masyarakat desa berbeda dengan di kota; di desa cukuplah dengan tamat SD / SMP, di kota tidak cukup.

11.      Urbanisme dan urbanisasi. Urbanisme, adalah gaya hidup kekotaan dan ini ditentukan oleh ciri-ciri spasial, sekularisasi, asosiasi sukarela, peranan sosial yang terpisah dan norma-norma yang serba kabur. Urbanisme melahirkan mentalitas kota, di mana sikap, ide da kepribadian manusianya berbeda dengan yang berada di pedesaan. Gejala yang di kota berupa disorganisasi pribadi, aneka kejahatan, korupsi dan kekalutan dalam banyak hal. Urbanisme (gaya hidup kekotaan) memicu urbanisasi.

12.      Urbanisasi menyangkut proses “pengotaan” (menjadi kota) yang dialami  oleh suatu kawasan, yang ditandai dengan masuknya penduduk pedesaan ke perkotaan. Sosiolog Breese menunjuk 3 gejala sosial yang saling berkaitan: urbanisasi, detribalisasi, stabilisasi.

13.      Beberapa contoh permasalahan pada masyarakat kota dan desa;

-      Gejala ruralisasi (pendesaan) kota.

-      Urbanisasi (dan urbanisme di) desa.

-      Mengapa control sosial di desa lebih kuat daripada di kota?

-      Fenomena “buwuhan” pada acara hajatan di desa dan di kota (interaksi sukarela ataukah interaksi timbale balik?).

-      Kepemimpinan organisasi di kota: adakah pengarug factor keturunan? Ataukah factor “kelebihan” (kekuatan, pesona) pribadi?

-      Gaya hidup kota dan desa (dengan maraknya media komunikasi: TV, HP, internet, dll): bagaimana kini?

-      Nilai dan sistem nilai serta persepsi terhadap mandi: di desa, mandi = segar; di kota, mandi = bersih, higienis. Terhadap makan. Di desa, makan = kenyang. Di kota, makan = kenyang, refreshing/ istirahat/ pelepas penat à karenanya ada sebutan restoran (rest = istirahat). Makan juga berarti suasana (banyaknya café di kota yang tidak hanya menjual makanan/ minuman tetapi menjual suasana). Di desa sekarang banyak café ya… Bisa dijelaskan?

-      Dsb…. Masih banyak fenomena dan permasalahan sosial di sekitar kita, tinggal amati saja. Gunakan referensi sosiologi (misalnya dalam Diktat I dan II materi perkuliahan ini), dsb, untuk menjelaskannya.

Bahan Bacaan

1.    Beilharz, Peter, 2003, Teori Teori Sosial, Pustaka Pelajar Yogyakarta.

2.    Coser, Lewis A., 1982, Sociological Theory: A Book of Readings, MacMillan Publishing, Co., Inc., USA.

3. Daldjoeni, N., 1997, Seluk Beluk Masyarakat Kota, Alumni Bandung.

4.    Fatchan, A., 2004, Teori-teori Perubahan Sosial, Yayasan Kampusina Surabaya.

5.    Giddens, Anthony, 2004, Sociology: Introductory Readings, Polity, UK.

6.    Haralambos, Michael dan Martin Holborn, 2000, Sociology, Themes and Perspectives, Fifth Edition, Collins Educational, London.

7.    Kaldor, Mary, 2004, Global Society, Polity, UK.

8.    Kinloch, Graham C., 2005, Perkembangan dan Paradigma Utama Teori Sosiologi, Pustaka Setia Bandung.

9. Leibo, Jefta, 1995, Sosiologi Pedesaan, Andi Offset Yogyakarta.

10.  Ritzer, George, 1996, Modern Sociological Theory, The McGraw-Hill Companies, Inc.

11.  Sanderson, Stephen K., 1993, Sosiologi Makro, Rajawali Press Jakarta.

12.  Sukmana, Oman, 2005, Sosiologi dan Politik Ekonomi, UMM Press Malang.

13.  Sztompka, Piötr, 2005, Sosiologi Perubahan Sosial, Prenada Jakarta.

14.  Zaltman, Gerald, 1972, Processes and Phenomena of Social Change, John Willey & Sons, Inc., New York.

6 Tanggapan

  1. sangat membantu saya untuk materi perkuliahan kepada mahasiswa.

  2. sangat menginspirasi blog ini, andai ada jumpa dengan pemiliknya alangkah bangganya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: