Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa – Bagian I


Sosiologi Masyarakat Kota & Desa

Bagian I

Wawan E. Kuswandoro

http://www.eKuswandoro.co.cc

Tulisan ini membantu penyampaian materi kuliah “Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa”, mendeskripsikan cara pandang dan bagaimana sosiologi memberikan pemahaman dan analisis tentang masyarakat kota dan desa, kehidupan sosialnya, hubungan kota dan desa dan kaitannya dengan pembangunan, gejala dan masalah-masalah kota dan desa termasuk urbanisasi dan urban bias. Pokok-pokok perkembangan kota dan pembangunan desa dimasukkan dalam lingkup bahasan yang sesuai dengan kebutuhan penelaahan studi-studi politik dan administrasi. Untuk mempermudah penyampaian, artikel ini terbagi menjadi 2 bagian. Bagian I berisi materi Mengenal Sosiologi Untuk Analisis Masyarakat (I), Konsepsi Tentang Masyarakat (II) dan Mengenal Paradigma Ilmu Sosial (III). Bagian II berisi materi Masyarakat Kota (I), Masyarakat Desa (II), Masalah-Masalah Masyarakat Kota dan Desa (III).

1

Mengenal Sosiologi Untuk Analisis Masyarakat

Sebagai awalan perjumpaan ini lebih baik jika saya me-refresh pemahaman dasar sosiologi, terkait pengertian, definisi dan kajian disiplin ilmu sosiologi. Termasuk juga, pengertian tentang masyarakat, interaksi social, proses sosial dan lembaga social, yang nantinya pemahaman dasar ini digunakan sebagai pijakan elaborasi dan analisis masyarakat kota dan desa. Sebagai langkah awal, mari kita pelajari dulu sosiologi dan masyarakat karena keduanya terkait erat (sosiologi kan mempelajari masyarakat, ok…)…

  1. Sosiologi memiliki banyak sekali definisi dan pengertian, yang dirumuskan oleh para ilmuwan social. Dan tidak ada paradigma tunggal dalam ilmu social, artinya, cara pandang ilmu social khususnya sosiologi dapat mengikuti perspektif dan definisi ilmu yang mana saja yang diberikan oleh para pakar sosiologi. Namun dari ragam definisi tersebut, dapat ditarik suatu rumusan pengertian umum, bahwa sosiologi, atau ilmu tentang masyarakat, merupakan bagian dari ilmu social, yang mempelajari kehidupan social atau kehidupan manusia secara bersama-sama dengan manusia lainnya. Kehidupan manusia secara bersama-sama ini kemudian disebut dengan istilah ‘masyarakat’ (bahasan tentang ‘masyarakat’ akan saya berikan dalam sub bahasan tersendiri, nanti di bawah ya…). Ini bicara ‘sosiologi’ dulu ya…
  2. Beberapa definisi SOSIOLOGI yang perlu diketahui:

Pitirim Sorokin, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala- gejala social.

Alvin Bertrand, sosiologi adalah ilmu yang Ilmu yang mempelajari dan menjelaskan tentang hubungan antar manusia.

J.A.A Van Doorn dan C.J Lammers, sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur sosial, proses sosial yang bersifat stabil.

Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur social dan proses-proses social termasuk perubahan social.

Hassan Shadily, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antar manusia yang menguasai kehidupan. Sosiologi mencoba memahami sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan hidup, kepercayaan, keyakinan yang memberi sifat tersendiri pada cara hidup bersama tersebut.

Max Weber mendefinisikan sosiologi sebagai studi tentang aksi social (Haralambos, Sociology, Themes and Perspectives). Sebagai studi aksi social, ia banyak berbicara mengenai hubungan social dan motivasi, yang menurut Weber banyak dipengaruhi oleh rasionalitas formal. Rasionalitas formal, meliputi proses berpikir actor dalam membuat pilihan mengenai alat dan tujuan (Ritzer,2005). Dalam konteks ini, hubungan sosial, berkaitan dengan motivasi dan rasionalitas formal mengenal 3 sifat hubungan, yakni:

-      Hubungan sosial yang bersifat atau didasarkan pada tradisi. Yakni hubungan sosial yang terbangun atas dasar kebiasaan / tradisi di masyarakat.

-      Hubungan sosial yang bersifat atau didasarkan pada koersif/ tekanan. Yakni hubungan sosial yang terbangun dari rekayasa social dari pihak yang memiliki otiritas (kekuasaan) terhadap yang powerless.

-      Hubungan sosial yang bersifat atau didasarkan pada rasionalitas. Sedangkan ciri dari hubungan rasional adalah hubungan sosial yang bersifat asosiatif dan orientasi tindakan sosial berdasarkan pada sebuah penyesuaian kepentingan-kepentingan yang di motivasi secara rasional atau persetujuan yang di motivasi secara sama.

Dalam hubungan sosial selalu ada pengorganisasian dan pengorganisasian tersebut dipertahankan melalui wewenang. Weber menjelaskan hubungan sosial ini berdasarkan atas rasional formal, karenanya terdapat suatu pengorganisasian. Dan pengorganisasian tersebut dipertahankan melalui wewenang (otoritas, legitimasi). Weber membagi 3 tipe otoritas / legitimasi, yaitu:

Otoritas Tradisional

Berasal dari kepercayaan dan faktor keturunan atau garis keluarga atau kesukuan. Otoritas tradisional ini berdasarkan pada penerimaan kesucian aturan-aturan karena aturan-aturan itu telah lama ada dan dalam legitimasi mereka yang telah mewariskan hak untuk memerintah dengan aturan-aturan ini. Di dalam tatanan tradisional individu merupakan loyalitas dari masa lalu dan mereka mewakili masa lalu itu, sebuah loyalitas yang seringkali berakar dalam sebuah kepercayaan akan kesakralan peristiwa-peristiwa sejarah tertentu. Misalnya seorang kyai, maka anak dan keturunan kyai akan cenderung menjadi kyai pula karena tradisi yang diterima  oleh masyarakatnya. Walaupun seringkali sang kyai muda (kadang dadakan) ini tidak memiliki ilmu agama yang mumpuni. Tetapi tidak ada orang yang memprotes karena mereka (terlanjur) percaya.

Otoritas Karismatik

Berasal dari anggapan atau keyakinan bahwa seorang pemimpin (pemegang otoritas) itu memiliki kelebihan yang luar biasa (linuwih, Jawa). Contohnya, empu yang punya kesaktian (dia sekaligus memiliki otoritas karismatik), Soekarno yang dianggap (minimal oleh pemujanya) kekuatan “supra”, dsb.

Otoritas Legal-Rasional

Berasal dari peraturan (legal-rasional) yang diberlakukan secara hukum dan rasional. Dan pemimpin yang lahir dari otoritas ini berdasarkan atas kemunculan yang legal dan rasional pula.

Misalnya pemimpin organisasi modern, Ketua RT, RW, dsb yang dipilih secara langsung oleh musyawarah warga RT, RW, dsb. Mereka memperoleh otoritas tertinggi dari hukum masyarakat.

  1. Ruang lingkup sosiologi lebih luas daripada ilmu-ilmu pengetahuan social lainnya, karena ia mencakup semua interaksi antara individu-individu dan kelompok-kelompok dalam masyarakat. Ia mengemuka-kan sifat atau kebiasaan manusia dalam kelompok dengan segala kegiatan dan kebiasaan serta lembaga-lembaga penting sehingga masyarakat dapat berkembang terus dan berguna bagi kehidupan manusia (Kata kunci: interaksi, kelompok, masyarakat, proses social, struktur social, gejala social, ikatan social).
  2. Individu-individu yang berkumpul membentuk suatu masyarakat, memiliki aturan, tata nilai (value) yang diyakini dan dianut sebagai perekat hubungan antar individu tersebut. Mereka menyepakati suatu konsensus (consensus, code of ethics, ‘code of conduct’).
  3. Dalam kehidupan bersama-sama di masyarakat, terdapat berbagai aspek aktivitas, misalnya: aspek social itu sendiri seperti interaksi antar individu, antar kelompok (group), konflik social; aspek ekonomi misalnya yang menyangkut produksi, distribusi, konsumsi atau penggunaan jasa/ layanan; aspek hukum misalnya yang menyangkut norma dan peraturan yang dipakai untuk mengatur kehidupan bermasyarakat; aspek politik misalnya menyangkut wewenang dan kekuasaan untuk mengatur kehidupan bersama tersebut, dsb.
  4. Beberapa aspek aktivitas manusia (individu) dalam masyarakat tersebut saling berkaitan satu sama lain dan semuanya ada dalam suatu masyarakat. Hal ini yang menurut Emile Durkheim dijelaskan dalam “Division of Labor in Society” (‘pembagian kerja’ dalam masyarakat), bahwa interaksi antar individu dalam masyarakat yang kompleks didasarkan pada pembagian kerja, dan saling tergantung yakni tergantung pada perbedaan individual –perbedaan yang berkembang seiring spesialisasi bidang kerja. Spesialisasi, menurut Durkheim, merupakan syarat bagi berkembangnya perbedaan personal dan menciptakan wilayah aksi yang tidak tunduk pada control kolektif, tetapi pada saat yang sama meningkat pula ketergantungan pada masyarakat karena dengan adanya spesialisasi bidang kerja maka pertukaran pelayanan menjadi syarat bagi kelangsungan hidup.
  5. Interaksi antar individu dalam masyarakat, menurut Durkheim, didasarkan pada keyakinan dan nilai-nilai bersama serta kontrol komunal yang ketat (disebut solidaritas mekanik) dan ketergantungan mutual antar individu yang relatif otonom yang diciptakan oleh pembagian kerja (disebut solidaritas organik).
  6. Objek sosiologi adalah: masyarakat, yang dilihat dari sudut hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.

2

Konsep Tentang Masyarakat

  1. Beberapa definisi MASYARAKAT menurut para pakar ilmu sosial:

Mac Iver & H. Page, masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, wewenang dan kerjasama antara berbagai
kelompok dan penggolongan serta pengawasan tingkah laku serta kebebasan manusia. Dan masyarakat selalu berubah.

Ralph Linton, masyarakat merupakan setiap kelompok manusia
yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama sehingga
mereka menganggap diri mereka sebagai kesatuan sosial dengan batas batas yang dirumuskan dengan jelas.

Selo Sumarjan, masyarakat adalah orang orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.

MJ. Herskovits, masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan mengikuti cara hidup tertentu.

JL. Gillin dan JP. Gillin, masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar dan memiliki kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama.

S.R. Steinmetz, masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar, yang meliputi pengelompokan-pengelompokan manusia yang lebih kecil, mempunyai hubungan yang erat dan teratur.

  1. Yang dimaksud MASYARAKAT dalam istilah sosiologi adalah merujuk pada pengertian sejumlah manusia yang telah hidup bersama di suatu wilayah tertentu dengan menciptakan sejumlah aturan, system dan kaidah-kaidah pergaulan serta melahirkan kebudayaan masyarakat  tersebut.
  2. Kajian tentang MASYARAKAT mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Terdapat banyak sekali penjelasan dan kajian tentang masyarakat sejak zaman Plato, Aristoteles, Ibnu Khaldun hingga melampaui zaman renaissance, Thomas Hobbes (abad 17), John Locke, J.J. Rousseau (abad 18), Saint Simon, August Comte (abad 19), dan berkembang setelah Herbert Spencer (abad 20) menerbitkan buku berjudul “Principles of Sociology”. Sederet nama besar tokoh sosiologi yang pemikirannya lazim digunakan diantaranya adalah Pitirim Sorokin, Karl Marx, Max Weber, Talcott Parsons, dll.

Plato memandang masyarakat merupakan refleksi dari manusia perorangan. Suatu masyarakat akan mengalami kegoncangan sebagaimana halnya manusia yang terganggu keseimbangan jiwanya (nafsu, semangat dan intelegensi). Plato menganalisis lembaga-lembaga di dalam masyarakat dan berhasil menunjukkan hubungan fungsional antara lembaga-lembaga tersebut yang pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan menyeluruh. Ia merumuskan teori organik tentang masyarakat.

Aristoteles, sepakat dengan Teori Organik Plato. Bukunya berjudul “Politics”, menganalisis secara mendalam terhadap lembaga-lembaga politik dalam masyarakat.

Ibnu Khaldun, factor-faktor yang menyebabkan bersatunya manusia di dalam suku-suku, klan, Negara, dsb, adalah rasa solidaritas.

Thomas Moore (Utopia) membahas gagasan Negara ideal.

Niccolo Machiavelli (Il Principe/ The Prince), menganalisis bagaimana mempertahankan kekuasaan.

Thomas Hobbes (The Leviathan), dalam keadaan alamiah, kehidupan manusia selalu pada keinginan yang mekanis, sehingga manusia selalu ingin berkelahi, tetapi mereka beranggapan bahwa hidup damai adalah lebih baik sehingga mereka mengadakan suatu kontrak dengan pihak yang mempunyai wewenang.

John Locke dan J.J. Rousseau berpegang pada konsep kontrak social Hobbes, berpendapat bahwa manusia pada dasarnya mempunyai hak-hak asasi yang berupa hak untuk hidup, kebebasan dan hak atas harta benda. Kontrak antara warga masyarakat dengan pihak yang mempunyai wewenang sifatnya atas factor pamrih. Rousseau berpendapat bahwa kontrak antara pemerintah dengan yang diperintah menyebabkan tumbuhnya kolektivitas yang memiliki keinginan umum (keinginan umum berbeda dengan keinginan individu).

Saint Simon, manusia hendaknya dipelajari dalam kehidupan berkelompok. Masyarakat bukanlah semata-mata merupakan kumpulan orang-orang yang tindakannya tidak mempunyai sebab. Kumpulan tersebut hidup karena didorong oleh organ-organ tertentu yang menggerakkan manusia untuk melakukan fungsi-fungsi tertentu.

August Comte, memberi nama “sociology”, merupakan studi positif tentang hukum-hukum dasar dari gejala social.

Setelah Comte, muncul beberapa mazhab pemikiran sosiologi, seperti mazhab organik dengan tokohnya Herbert Spencer, yang dipengaruhi oleh teori biologi daalm arti luas. Ia menganalogkan masyarakat manusia dengan organisme biologi yakni suatu organisme akan bertambah sempurna apabila bertambah kompleks dengan adanya diferensiasi antara bagian-bagiannya (evolusi).

Durkheim (Division of Labor of Society), unsur baku dalam masyarakat adalah factor solidaritas (lihat penjelasan di atas).

Karl Marx, terkenal dengan teori kapitalisme, dengan mengatakan bahwa selama masyarakat masih terbagi dalam kelas-kelas, maka pada kelas berkuasalah (the ruling class) akan terhimpun segala kekuatan dan kekayaan, terdapat eksploitasi terhadap kelas yang lebih lemah, karena itu selalu timbul pertentangan antar kelas. Pertikaian akan berakhir bila salah satu kelas (kelas proletar) menang sehingga terciptalah masyarakat tanpa kelas.

Max Weber, semua bentuk organisasi social harus diteliti menurut perilaku warganya. Weber terkenal dengan teori tentang proses rasionalisasi (lihat penjelasan di atas).

  1. Dalam kehidupan sosial, manusia melakukan interaksi sosial dan proses sosial. Proses sosial diartikan sebagai:  pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama. Pembahasan tentang proses-proses social merupakan studi sosiologi  yang sifatnya luas. Fokus bahasan dari proses-proses social ini hanya dibatasi pada bentuk-bentuk interaksi sosial.

Pengertian Interaksi Sosial

Interaksi social adalah kunci dari semua kehidupan social, oleh karena tanpa interaksi social tidak mungkin ada kehidupan bersama. Bertemunya orang perorangan secara fisikal belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama, saling berbicara, dsb. Maka dapat dikatakan bahwa interaksi social adalah dasar dari proses-proses sosial (interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial). Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan social yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang-perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang-perorangan dengan kelompok manusia.

H. Boner: Interaksi Sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lainnya, atau sebaliknya.

Syarat-syarat terjadinya Interaksi Sosial

Suatu interaksi social tidak mungkin terjadi apabila tidak memenuhi  dua syarat, yaitu:

-      Adanya kontak social (social contact)

-      Adanya komunikasi.

Kontak social dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu: (i) Antar orang perorangan; (ii) Antara orang-perorangan dengan kelompok; dan (iii) Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.

Suatu kontak social:

-      Bisa bersifat positif, yang mengarah pada bentuk kerjasama.

-      Bisa bersifat negatif, yang mengarah pada bentuk persaingan

-      Bisa bersifat primer, yang terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka.

-      Bisa bersifat sekunder, yang terjadi apabila proses hubungan dilakukan melalui perantara (orang lain, media, alat, dsb).

Alat terpenting dari komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak gerik fisikal atau sikap, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Komunikasi memungkinkan kerjasama antara orang-perorangan atau antara kelompok-kelompok manusia, dan komunikasi merupakan syarat terjadinya kerjasama (cooperation). Namun komunikasi juga bisa mengakibatkan pertikaian (conflict).

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial

-      Kerjasama (cooperation)

-      Persaingan (competition), dan

-      Pertentangan/pertikaian (conflict).

Menurut Gillin dan Gillin (Soekanto, 1986), ada dua macam proses social yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial, yaitu:

-      Proses yang asosiatif (processes of association): akomodasi, asimilasi dan akulturasi.

-      Proses yang disosiatif (processes of dissociation): persaingan, kontravensi (contravention), pertikaian/ pertentangan (conflict).

Kimball Young, membagi bentuk-bentuk proses sosial sbb:

-      Oposisi (opposition), yang mencakup persaingan (competition) dan pertentangan/ pertikaian (conflict).

-      Kerjasama (cooperation), yang menghasilkan akomodasi (accommodation).

-      Diferensiasi (differentiation), yang merupakan suatu proses di mana orang perorangan di dalam masyarakat memperoleh hak-hak dan kewajiban yang berbeda dengan orang lain atas dasar perbedaan usia, jenis kelamin dan pekerjaan. Diferensiasi menghasilkan sistem berlapis-lapis dalam masyarakat.

  1. Kerjasama – Akomodasi – Asimilasi – Persaingan – Kontravensi – Pertikaian

Kerjasama, menurut beberapa sosiolog, merupakan bentuk utama dari interaksi sosial.

Charles H. Cooley: kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan yang sama; dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta penting dalam kerjasama yang berguna.

Ada 3 bentuk kerjasama (Soekanto, 1986):

-      Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang/ jasa antara dua organisasi/ lebih.

-      Co-optation, suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi ybs.

-      Coalition, adalah kombinasi antara dua organisasi/ lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Coalition dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu oleh karena dua organisasi/ lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktur yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya; tetapi karena memiliki tujuan yang sama, maka dapat bersifat kooperatif.

Akomodasi (accommodation), merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan/ menghilangkan kepribadian pihak lawan.

Akomodasi digunakan dalam  arti:

-      Merujuk pada suatu keadaan à adanya suatu kesetimbangan (equilibrium) dalam interaksi antara individu dan kelompok-kelompok manusia, sehubungan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat.

-      Merujuk pada suatu proses à merujuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan à usaha untuk mencapai kestabilan.

Gillin & Gillin: akomodasi adalah suatu pengertian yang dipergunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan pengertian adaptasi (adaptation) yang dipergunakan oleh ahli biologi untuk menunjuk suatu proses di mana makhluk hidup menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya.

Akomodasi bertujuan untuk:

-      Mengurangi pertentangan à menghasilkan sintesa antara pendapat-pendapat yang berbeda untuk menghasilkan pola baru.

-      Mencegah meledaknya pertentangan à temporer.

-      Mendorong terjadinya kerjasama antara kelompok-kelompok sosial yang karena factor-faktor sosial psikologis/ kebudayaan hidupnya terpisah.

-      Mengusahakan peleburan antara kelompok-kelompok sosial yang terpisah, misalnya melalui asimilasi/ pembauran.

Bentuk-bentuk accommodation:

-      Coercion à dilaksanakan dengan cara paksaan (fisik, psikologis), salah satu pihak berada pada posisi yang lemah (missal: perbudakan).

-      Compromise, pihak-pihak yang terlibat mengurangi tuntutannya agar tercapai penyelesaian terhadap perselisihan yang ada; salah satu pihak bersedia untuk merasakan dan mengerti keadaan pihak lain, dan sebaliknya.

-      Arbitration, cara untuk mencapai compromise bila pihak-pihak yang berhadaoan tidak sanggup untuk mencapainya sendiri à diselesaikan oleh pihak ketiga atas kesepakatan keduabelah pihak yang berselisih.

-      Mediation, hampir menyerupai arbitration, tapi pihak ketiga hanya sebatas penasehat saja.

-      Conciliation, usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih untuk tercapainya tujuan bersama. Conciliation lebih lunak daripada coercion.

-      Toleration (tolerant-participation), suatu bentuk accommodation tanpa persetujuan formal.

-      Stalemate [eit awas.. bukan ‘soulmate’ lho ya…], suatu akomodasi di mana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang.

-      Adjudication, penyelesaian perkara/ sengketa melalui proses pengadilan.

Asimilasi (assimilation), merupakan proses sosial dalam taraf kelanjutan yang ditandai  dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara individu/ kelompok-kelompok manusia yang juga meliputi usaha mempertinggi kesatuan-kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental, dengan memperhatikan kepentingan dan tujuan bersama.

Proses asimilasi timbul bila terdapat:

-      Kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaan.

-      Individu sebagai anggota kelompok saling bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang lama.

-      Kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia dari kelompok-kelompok tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri.

Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi:

-      Toleransi.

-      Kesempatan di bidang ekonomi yang seimbang.

-      Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya.

-      Sikap terbuka dari golongan berkuasa dalam masyarakat.

-      Persamaan unsur kebudayaan.

-      Perkawinan campuran (amalgamation).

-      Adanya musuh bersama (common enemy) dari luar.

Persaingan (competition), suatu proses sosial di mana individu/ kelompok yang bersaing, mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian publik, dengan cara menarik perhatian publik atau mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa menggunakan ancaman/ kekerasan.

Kontravensi (contravention), suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan/ pertikaian, dinatdai oleh gejala-gejala adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang/ suatu rencana dan perasaan tidak suka yag disembunyikan, kebencian/ keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang. Contravention merupakan sikap mental yang tersembunyi terhadap orang lain atau terhadap kebudayaan/ golongan tertentu. Sikap tersembunyi tadi bisa berubah menjadi kebencian tetapi tidak sampai menjadi pertentangan/ konflik.

Pertentangan/ pertikaian (conflict), suatu proses sosial di mana individu/ kelompok manusia berusaha memenuhi tujuan dengan jalan menantang pihak lawan dengan ancaman dan kekerasan.

Bentuk-bentuk pertentangan (conflict):

-      Pertentangan pribadi.

-      Pertentangan rasial.

-      Pertentangan antar kelas sosial à disebabkan oleh perbedaan kepentingan.

-      Pertentangan politik.

-      Pertentangan yang bersifat internasional.

  1. Pembicaraan tentang hubungan sosial, interaksi sosial dan proses sosial, tak lepas dari pembicaraan tentang lembaga sosial/ kemasyarakatan. Lembaga sosial, terjemahan dari social institution”, juga diartikan sebagai pranata sosial atau bangunan sosial.

Pengertian lembaga sosial/ kemasyarakatan:

Soerjono Soekanto: himpunan norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat. Wujud konkretnya adalah association.

Robert Mac Iver & Charles H. Page: tatacara/ prosedur yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia yang berkelompok dalam suatu association.

Fungsi lembaga sosial:

Menurut Soerjono Soekanto (1988):

-      Memberi pedoman kepada anggota-anggota masyarakat bagaimana harus berperilaku dalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat terutama menyangkut kebutuhan pokoknya.

-      Menjaga keutuhan dari masyarakat ybs.

-      Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (social control) à sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku para anggotanya.

Ciri lembaga sosial:

JL. Gillin dan JP. Gillin (dalam Sugiyanto, 2002) memberikan ciri/ karakteristik umum lembaga sosial:

-      Punya tradisi tertulis/ tidak tertulis yang merumuskan tujuan, tata tertib, dll.

-      Merupakan suatu organisasi pola-pola pemikiran dan perilaku yang terwujud melalui aktivitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya.

-      Merupakan tingkat kekekalan, umumnya lama dan melalui proses yang panjang.

-      Mempunyai satu/ beberapa tujuan.

-      Mempunyai alat/ perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan.

-      Mempunyai lambang/ symbol yang menggambarkan tujuan/ fungsi.

Menurut J.B.A.F Mayor Polak (dalam Sugiyanto, 2002):

-      Lembaga sosial merupakan symbol kebudayaan.

-      Lembaga sosial sebagai tatakrama atau perilaku.

-      Lembaga sosial sebagai ideologi.

  1. Untuk mewujudkan hubungan antar individu/ manusia dalam masyarakat, maka dirumuskanlah norma-norma dalam masyarakat, yang mempunyai kekuatan mengikat. Kekuatan daya ikat dari norma-norma itu (ada yang daya ikatnya lemah dan ada yang kuat), secara sosiologis dikenal adanya 4 terms:

-      Cara (Usage), merujuk pada perbuatan yang mempunyai kekuatan mengikat paling lemah. Individu yang melakukan penyimpangan tidak mendapat sanksi yang tegas. Misal, pada masyarakat yang menganggap cara makan dengan tangan kanan itu yang diterima/ benar, maka orang yang makan dengan tangan kiri dianggap menyimpang tetapi tidak di-sanksi, tetapi hanya ditegur saja atau bahkan hanya dibatin atau “dirasani”.

-      Kebiasaan (Folk Ways), merujuk pada perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama. Kekuatan mengikat lebih tinggi daripada usage. Menurut Mac Iver & Charles H. Page, kebiasaan merupakan perilaku yang diakui dan diterima oleh masyarakat. Kebiasaan tidak semata-mata dianggap sebagai cara berperilaku saja tetapi diterima sebagai norma pengatur.

-      Tata Kelakuan (Mores), merupakan perilaku yang diakui dan diterima oleh masyarakat sebagai norma pengatur yang bersumber dari kebiasaan. Cirinya adalah, tata kelakuan mencerminkan sikap hidup kelompok, sebagai alat pengawas, memaksa suatu perbuatan, melarang perbuatan dan menuntut anggota masyarakat untuk beradaptasi.

-      Adat Istiadat (Custom), tata kelakuan yang kekal dan kuat integrasinya (menyatu) dengan pola-pola perilaku masyarakat. Anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat akan mendapat sanksi yang tegas dan keras.

  1. Supaya anggota masyarakat/ individu dapat menaati norma-norma yang berlaku dalam suatu kelompok, masyarakat atau sebuah lembaga, maka perlu diciptakan pengendalian sosial (social control). Pengendalian sosial, adalah proses yang dijalankan oleh masyarakat yang selalu disesuaikan dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat yang bersangkutan. Kontrol sosial bertujuan untuk mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, atau untuk mencapai kedamaian dalam masyarakat melalui keserasian antara kepastian dengan keadilan.

Pengendalian sosial dapat dilakukan oleh: individu terhadap individu, individu terhadap kelompok, dan kelompok terhadap kelompok.

Pengendalian sosial mempunyai 2 sifat: preventif (mencegah), dan represif (mengembalikan keserasian).

Pengendalian sosial dapat dilaksanakan dengan 2 cara:

-      Persuasif, dengan cara membujuk/ merayu agar masyarakat sadar dan mau melaksanakan norma-norma masyarakat sehingga akan tercipta suasana yang tenteram.

-      Koersif, dengan cara paksaan terhadap anggota masyarakat yang menyimpang agar patuh terhadap norma-norma yang berlaku.

Pengendalian sosial dapat berwujud:

-      Kompensasi, bersifat damai. Misal: ganti rugi akibat penggusuran.

-      Pemidanaan, dengan cara memidanakan anggota masyarakat yang melanggar norma-norma masyarakat.

-      Terapi, dengan cara menyembuhkan pelaku dari anggota masyarakat.

-      Konsiliasi, dengan cara mengembalikan pelakunya pada situasi semula.

Pengendalian sosial dapat dilaksanakan dengan menggunakan alat:

-      Pendidikan.

-      Hukuman (sanksi, punishment).

-      Buah bibir (gunjingan, di-rumpiin) sebagai sanksi sosial.

-      Publikasi, penayangan kasus-kasus penyimpangan.

bersambung… ke Sub Bagian I – 3

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: